Hamas: “Pesawat Hebron” Bukti Baru Bahaya Kerjasama Keamanan

zulkinofrJuru bicara Gerakan Hamas Dr. Sami Abu Zuhri

Zulkinofr– Gaza. Gerakan perlawanan Islam “Hamas” menyatakan,
penjajah zionis mengungkap penangkapan
yang dilakukan aparat keamanan otoritas
terhadap sayap pejuang Hamas, yang
merencanakan peluncuran bom pesawat
menuju kawasan penjajah zionis, merupakan bukti baru betapa berbahayanya kerjasama
keamanan dengan penjajah zionis. Jubir Hamas, Sami Abu Zuhri dalam
keterangannya, Jumat (25/10) menyebutkan,
hal ini membuktikan peran kerjasama
keamanan dalam upaya menggagalkan
upaya perlawanan dan melindungi keamanan
penjajah zionis. Abu Zuhri atas nama Hamas menegaskan,
tindakan ini tidak akan sukses menghalangi
perlawanan melakukan perannya melindungi
rakyat dan tempat suci. Situs berita zionis “Wala” menyatakan,
pasukan keamanan Palestina baru-baru ini
menemukan sayap pejuang Brigade Al-
Qassam yang merencakanan pengiriman
pesawat kecil tanpa awak dari kawasan
Hebron supaya meledak di kawasan internal zionis. Mengutip sumber keamanan di otoritas
Palestina di Ramallah, situs mengungkap
bahwa aparat keamanan otoritas berhasil
menangkap sejumlah aktifis Hamas di
universitas Hebron yang terlibat dalam
rencana ini. (pip/sbb/dakwatuna)

Iklan

Harga Mahal Perang Irak, Harga Mahal Ketiadaan Khilafah

zulkinofr

Inilah harga Mahal Perang Irak, 461 ribu
rakyat Irak terbunuh, hampir setengah juta
jiwa. Menurut studi jurnal terbaru yang
ungkap jurnal PLOS Medicine, diperkirakan
461 ribu rakyat Irak terbunuh antara Maret
2003 hingga Juni 2011, sebagai akibat langsung atau tidak langsung dari
pertempuran. Studi tersebut mengungkap sebagian besar
korban terbunuh akibat kekerasan.
Sepertiganya akibat tidak langsung dari
perang seperti sistem pelayanan kesehatan
yang lumpuh bahkan hancur lebur, dan
kurangnya pasokan barang-barang kebutuhan penting, juga buruknya sanitasi. Seperti dimuat Daily Mail (16/10) untuk
kematian akibat kekerasan didominasi
tembakan senjata, yakni mencakup 62
persen. Bom mobil 12 persen, sementara 9
persennya adalah ledakan lainnya. Untuk
penyebab kematian non-kekerasan, penyakit jantung mendominasi. Data angka tersebut disusun oleh tim peneliti
di Irak dan AS, yang dipimpin Amy Hagopian,
dari University of Washington. Didasarkan
pada survei 2.000 rumah tangga di Irak
antara Mei dan Juli 2011. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding laporan
lembaga Iraq Body Count yang mencatat
terdapat 112 ribu penduduk sipil terbunuh.
Yang pasti, jumlah korban terus bertambah,
mengingat hingga saat ini lingkaran
kekerasan di Irak terus terjadi. Inilah harga mahal yang harus dibayar diam
dunia terhadap kejahatan kapitalisme
Amerika. Berlindung dibalik perang melawan
terorisme yang penuh konspiratif, tudingan
senjata pemusnah masal yang sarat dusta.
Termasuk berlindung di bawah tabir asap menyebarkan demokrasi dan
menumbangkan rezim diktator. Semua perang atas nama ini, menutupi motif
sebenarnya dari Amerika yang sangat jelas,
merampok kekayaan alam Irak. Kejahatan
inipun seakan menjadi legal, ketika
tindakan-tindakan Amerika mendapat
legitimasi PBB yang menjadi alat politik penjajahan negara-negara Barat. Kesuksesan Amerika melakukan
pembantaian masal di Irak juga tidak lepas
dari peran media masa mainstream di Barat
yang secara sistematis membangun opini,
cerita bohong, propaganda sebagai
pembenaran opini umum terhadap tindakan Amerika Serikat. Meskipun ada suara-suara
melawan arus dari media alternatif, namun
persekongkolan jahat media utama dunia
masih dominan. Terbunuhnya hampir setengah juta dari
rakyat Irak ini, tidak bisa dilepaskan dari
lemahnya dunia menghadapi politik standar
ganda. Sebagaimana kita ketahui, duniapun
mengetahuinya, Amerika adalah negara
yang paling hipokrit. Disatu sisi bicara tentang HAM , negara ini justru pelanggar
Ham nomor wahid dunia. Sebagaimana yang
terbukti dengan kasat mata terjadi di
penjara-penjara Guantanamo, Abu Ghraib,
dan penjara-penjara keji lainnya. Bicara demokrasi, namun dalam praktiknya
negara ini banyak melanggar prinsip-prinsip
utama demokrasi. Termasuk mendukung
rezim-rezim diktator yang melakukan
kejahatan terhadap rakyatnya sendiri. Hal yang kasat mata ditunjukkan Amerika ,
ketika mendukung pembantaian yang
dilakukan oleh rezim Fir’aun as Sisi di
Mesir. Sebagai bentuk dukungan
berkelanjutan negara Paman Sam itu
terhadap rezim diktator sebelumnya : Husni Mubarak, Anwar Sadat, hingga Jamal Abdul
Nasir. Inilah harga mahal dari mandulnya dunia
menghadapi politik eksepsionalis Amerika.
Pandangan narsis yang menganggap
Amerika adalah istimewa , karena itu dunia
harus memperlakukan negara penjajah ini
dengan istimewa pula. Dengan keistimewaan nya pula , Amerika membenarkan
kejahatan-kejahatannya. Anggapan narsis ini, tampak dari pidato
Obama pada tanggal 24 September 2013. Saat
itu Obama mengingatkan tentang
keistimewaan Amerika. Dia mengatakan
“Saya percaya bahwa pemisahan ini akan
menjadi suatu kesalahan. Saya percaya Amerika harus tetap terlibat dalam
keamanan kita sendiri, namun saya juga
percaya bahwa dunia menjadi lebih baik
baginya. Sebagian orang mungkin tidak
setuju. Namun, saya percaya Amerika adalah
istimewa. Sebagian dikarenakan kita telah menunjukkan kesediaan untuk melakukaan
pengorbanan dengan darah dan harta untuk
berdiri tegak tidak hanya bagi kepentingan
sempit diri kita sendiri, namun juga bagi
kepentingan semua orang” Karena istimewa, Amerika pun merasa
selalu benar untuk melakukan
kejahatannya. Keistimewaan ini menjadikan
negara ini seolah-olah sah-sah saja
melakukan kegiatan mata-mata terhadap
negara lain termasuk warganya sendiri. Seperti yang dibongkar oleh mantan agen
CIA, Edward Snowden. Dengan program
rahasia PRISM, sebuah program pengawasan
elektronik rahasia, dinas intelijen Amerika
NSA, bisa mengakses jutaan email, pencarian
di web dan lalu lintas internet secara real- time. Dengan keistimewaannya ini, seolah
Amerika sah-sah saja melakukan kejahatan
keji yang dikenal dengan program rendisi
Global CIA. Amerika bekerjasama
melakukan sub kontrak penyiksaan dengan
rezim buas Suriah, Libya, Mesir dan Uzbekistan. Report setebal 213 halaman dari
Open Society Justice Initiative (OSJI) pernah
mengungkap hal itu. Dengan keistimewaannya ini, Amerika
berhak memiliki lebih dari 70 ribu hulu ledak
nuklir. Jumlah yang masih lebih besar kalau
total hulu ledak nuklir negara lainnya di
dunia. Termasuk, hanya Amerika yang
pernah menggunakan senjata pemusnah masal, bom atom yang dijatuh di Hiroshima
dan Nagasaki dengan korban tewas lebih
dari 220 ribu orang. Keistimewaan Amerika berlanjut dalam
perang Vietnam. Negara brutal ini –
mengklaim legal- menggunaan bom Napalm.
Sebuah bom kalau meledak akan
menciptakan percikan api yang menyala ,
menyebar ke segala penjuru dengan suhu hingga 5000 derajat. Pastilah akan memiliki
daya rusak yang besar. Anggapan narsis ini pula lah yang
membenarkan Amerika untuk menjatuhkan
bom-bom melalui pesawat tanpa awak
(drone) diberbagai kawasan negeri Islam
dengan alasan perang melawan terorisme.
Meskipun faktanya yang paling banyak terbunuh adalah anak-anak dan ibu-ibu yang
tidak terlibat langsung dalam perang.
Lembaga HAM dunia seperti Human Rights
Watch dan Amnesti Internasional secara
terbuka telah menyatakan sebagian
serangan pesawat tanpa awak drone AS termasuk tindakan kejahatan perang dan
melanggar hukum internasional. Sementara bagi kita, inilah harga mahal
ketika dunia Islam tunduk kepada sistem
kejahatan kapitalisme dengan sistem
demokrasinya. Harga mahal ketika umat
Islam bergabung, tunduk dan patuh kepada
organisasi-organisasi atas nama internasional seperti PBB yang sejatinya
merupakan alat penjajahan negara Barat. Inilah harga mahal yang harus kita bayar
ketika ditengah-tengah umat tiada lagi
memiliki Khilafah. Negara Islam yang akan
mempersatukan umat Islam, menerapkan
syariah Islam , dan melindungi umat Islam. Inilah harga mahal kalau umat Islam terus
tidak berdiam diri dan tidak berpartisipasi
dalam perjuangan menegakkan Khilafah
Islam . Tidak peduli terhadap kebengisan
penguasa-penguasa boneka di negeri Islam
yang menjadi alat yang mengokohkan penjajahan di negeri Islam. Dari sini semua, kita seharusnya bisa lebih
mengerti, kenapa para sahabat dan ulama-
ulama terkemuka, pemimpin imam
madzhab, sangat menekankan pentingnya
keberadaan Kholifah yang menjadi pemimpin
umat Islam yang melindungi umat. Bukan sekedar kewajiban tapi merupakan
a’dzomul wajibat (kewajiban paling
utama), bahkan disebut sebagai tajul furudh
(mahkota kewajiban). Akhirul kalam, tentang pentingnya
penegakkan Khilafah ini, Imam Ibnu
‘Abidin, di dalam Kitab Radd al-Muhtar
(IV/205) berkata:…Mengangkat seorang
imam (khalifah) itu termasuk kewajiban
yang paling penting karena banyak kewajiban syariah bergantung kepada
dirinya. Oleh karena itu, Imam an-Nasafi
dalam Kitab al-‘Aqa-id an-Nasafiyyah
berkata, “Sudah menjadi keharusan atas
kaum Muslim adanya seorang imam untuk
melaksanakan hukum-hukum syariah; menegakkan hudud; memperkuat benteng-
benteng, membentuk pasukan; mengambil
zakat; mengalahkan para pemberontak,
mata-mata musuh dan para pembegal;
menegakkan shalat Jumat dan Hari Raya;
menerima kesaksian-kesaksian yang membuktikan atas hak-hak; menikahkan
orang-orang lemah dan kecil yang tidak
memiliki wali; dan membagikan ghanimah
untuk mereka.”(Farid Wadjdi)Hti

Ismail Haniyah: Singa-singa Telah Siap di Atas dan di Bawah Tanah Palestina

zulkinofrPerdana menteri Palestina, Ismail Haniyah

Gaza. Perdana menteri Palestina sekaligus wakil ketua Biro Politik
Hamas, Ismail Haniyah, menyatakan bahwa
saat ini ribuan personil perlawanan sudah
bersiap-siaga di atas dan di bawah tanah
untuk menghadapi musuh. Hal itu beliau sampaikan pada pertemuan
massal para tokoh nasional Palestina di Gaza
hari ini, Sabtu (19/10/2013) dalam rangka
memperingati dua tahun transaksi
“Wafa’ul Ahrar” yang berisi pertukaran
satu tawanan Yahudi (Gilad Shalit) dengan 1050 tahanan Palestina. Dalam sambutannya, Haniyah juga
menyampaikan salam hormat kepada para
pejuang perlawanan, pengungsi, tahanan, dan
orang-orang yang selalu siap siaga dalam
mempertahankan kota Al-Quds. Tidak
ketinggalan, beliau juga menyampaikan salam hormat kepada Mesir yang ikut
bersaham dalam tercapainya transaksi
“Wafa’ul Ahrar” tersebut. Beliau mengatakan, “Dalam kesempatan ini,
kita ingat para syuhada Palestina yang gugur
di Suriah. Demikian juga mereka yang
meninggal dunia karena tenggelam saat
mencari suaka di tempat lain, karena negeri-
negeri Arab seakan menjadi sempit untuk mereka. Semoga mereka semua
mendapatkan limpahan rahmat dari Allah
swt. Aku sampaikan kepada mereka dan
juga keluarga mereka, “Bersabarlah,
karena fajar dan kemenangan akan segera
datang, dengan kehendak Allah swt. Walaupun saat ini kondisi sedang sangat
pahit dan sulit.’” Beliau juga mengatakan bahwa
memperingati tercapainya transaksi
“Wafa’ul Ahrar” adalah sesuatu yang
sangat besar. Keberhasilan itu adalah
kebanggaan rakyat Palestina dan juga umat
Islam di dunia. Kesepakatan itu telah menghilangkan apa yang disebut dengan
garis merah. Banyak kalangan menyebutnya
sebagai sebuah pukulan yang sangat keras
terhadap penjajah Yahudi. Menurutnya, pilar utama kemenangan ini
adalah perjuangan dan perlawanan. Dalam
hal ini, Kata’ib Al-Qassam telah
menghancurkan sebuah mitos kehebatan
bangsa Yahudi. Al-Qassam telah mencapai
kemenangan yang sangat bersejarah. Kemenangan itu dimulai dari keberhasilan
dalam menawan Gilad Shalit, keberhasilan
dalam menyembunyikannya di tempat yang
tidak diketahui. Selama 5 tahun Shalit tidak
bisa ditemukan, padahal Yahudi telah
mengerahkan segala kemampuannya. Kemenangan tersebut juga terwujud dalam
memaksa pihak musuh menerima dan
tunduk dengan tuntutan Palestina. Sehingga
para tawanan itu kini bisa dibebaskan dan
kini hadir dalam acara itu. Perancang operasi
bersejarah itu adalah Ahmad Ja’bari yang kini telah syahid. (msa/dakwatuna/
islammemo)

Pilihan-pilihan Strategis Hamas, Mungkinkah Diambil Saat Krisis?

zulkinofrHusam Dejni

Tidak tepat bila gerakan atau organisasi besar mengambil keputusan strategis pada saat diterpa sejumlah krisis. Sebab sejarah masih terus berputar, dinamika politik terus terjadi. Mereka terus memprediksi sikap dan keputusan penentu dan pemegang kebijakan sesuai dengan fase sejarah yang dilalui. Sehingga keputusan-keputusan strategis yang akan diambil gerakan besar itu dianggap hilang tanpa makna. Akan tetapi mencari dan mengkaji keputusan-keputusan strategis adalah hal penting dan mendesak melalui penilaian terhadap pengalaman dan perjalanan gerakan Hamas ini dengan tetap melihat masa depan. Setelah itu berusaha mengkonsep keputusan-keputusan. Hal ini yang mendorong kita untuk memberikan usulan kepada Hamas agar melakukan kajian terhadap pilihan-pilihan strategis. Kerumitan dan kompleksitas situasi politik ekonomi dan sosial yang sedang dialami Hamas dimanfaatkan lawan-lawan politiknya untuk mencari cara menghancurkan dan menghabisinya. Di tengah situasi seperti ini muncul pertanyaan; apa yang seharusnya ditempuh oleh Hamas sebagai pilihan-pilihan dalam fase saat ini. Sebelum berbicara tentang pilihan-pilihan strategis, kita harus mundur sejenak mengingat fase-fase yang pernah dilalui oleh Gerakan Perlawanan Islam Hamas ini. Fase yang dilalui Hamas terbagi atas sebagai berikut: fase berdiri hingga fase era Oslo, kemudian era pemilihan umum yang pernah diikuti pertama kali oleh Hamas pada januari 2006 hingga era kekuasaan pemerintahan yang dipegangnya sampai saat ini. Satu, Fase Berdiri Hingga Fase Era Oslo Setelah meletusnya Intifadah besar pada desember 1987, Hamas lahir dari rahim Jamaah Ikhwanul Muslimin di Palestina. Saksi-saksi sejarah mengatakan, Jamaah Ikhwan memutuskan untuk terlibat dalam aksi Intifadah sebagai bagian dari gerakan politik pembebasan. Jika gagalpun sebenarnya tidak akan ada sekenario kegagalan bagi jamaah Ikhwan. Namun Hamas berhasil dengan tingkat yang sangat tinggi. Mereka yang mampu menarik ribuan pemuda Palestina yang memiliki semangat yang tinggi. Perjalanan perjuangan Hamas terus berlanjut hingga mencapai pada pembentukan embrio sayap militer. Perlawanan bersenjata ditempuh. Dalam perjalanannya mereka mampu mewujudkan sejumlah capaian- capaian di lapangan. Sampai kemudian dimulai perundingan Madrid dan Oslo. Lahir dari rahim kesepakatan Oslo, Otoritas Palestina yang dianggap sebagai otoritas “cacat” secara politik. Kedua, Fase Oslo Hingga Pemilihan Umum Palestina Januari 2006 Otoritas Palestina dibentuk sebagai hasil dari penandatanganan kesepakatan Oslo. Semua orang meyakini, kesepakatan ini akan mengantarkan kepada berdirinya negara Palestina merdeka dan akan diakhiri dengan penjajahan Israel. Sayang sekali bangsa Palestina dibenturkan dengan realitas baru berupa “penjajahan dalam bentuk baru”. Otoritas Palestina hanya menjadi otoritas “pegawai” yang berperan menjaga keamanan Israel dan menjaga kepentingannya serta membantu teori keamanan Israel. Otoritas Palestina melakukan ini dengan kompensasi bantuan yang akan diberikan oleh negara-negara donor kepada otoritas Palestina. Sehingga kita memiliki tentara yang hanya berfikir sebagai pegawai yang menunggu gaji di akhir bulan atau kenaikan pankat. Israel justru terbebas dari tugasnya sebagai penjajah di lapangan. Israel hanya menguasai perlintasan-perlintasan dan masuknya komoditas dan barang melalui jalur laut udara dan darat. Situasi inilah yang mendorong presiden Yaser Arafat terlibat dalam perjanjian Cam David dan menolak tekanan Amerika serta tawaran Israel terkait dengan solusi sudut kota suci Al-Quds dan tempat-tempat suci lainnya di Palestina. Pada saat itulah meletus Intifadah Al-Aqsa dan terjadi perubahan-perubahan dalam perimbangan kekuatan di Palestina. Sampai datanglah pemilu legislatif pada Januari 2006 dan Hamas mendapatkan 74 kursi di parlemen. Ketiga, Fase Pemerintahan dan Kukuasaan Hamas Hamas menang dalam pemilu legislatif dan membentuk pemerintahan Palestina yang ke 10. Namun Hamas terbentur dengan kenyataan pahit sebagai pemerintahan hasil pemilu di Palestina. Sebab barat pengusung sistem demokrasi menolak hasil pemilu tersebut. Kemudian Tim Kuartet Internasional memberikan syarat-syarat kepada Hamas dan pemerintahannya. Sikap tim kuartet itu kemudian mendorong sejumlah kekuatan internal di Palestina menolak terlibat dalam pemerintahan bentukan Hamas dengan berbagai macam alasan. Situasi ini kemudian menggiring kepada terjadinya blokade berat kepada Jalur Gaza wilayah yang dikuasai dan sebagai pusat pemerintahan Hamas. Situasi semakin runyam karena terjadi konflik internal di Palestina. Akhirnya, dalam konflik tersebut, Hamas keluar sebagai pemenang dan menguasai kendali Jalur Gaza bersama sejumlah sekutunya. Penjajahan zionis dan para sekutu yang mendukungnya terus melakukan blokade sampai isu Palestina semakin menjauh pudar. Situasi semakin sulit karena perkembangan konflik yang meletus di sejumlah negara Arab, dari Suriah, Mesir dan negara Arab lainnya. Dari situasi ini saya ingin sumbang saran kepada Hamas untuk dibahas. Kemungkinan Hamas akan bisa melakukan manuver politik yang bisa membantu proyek nasional dan mengurangi serta meminimalisir jurang pemisah antara gerakan nasional Palestina sebab tujuan strategis bagi semua pihak di Palestina adalah membebaskan Palestina dan mengembalikan pengungsi Palestina ke tanah air mereka. Setelah paparan singkat di atas perjalanan sejarah Hamas, ada dua pilihan mendasar yang patut dikaji; Pertama, Hamas harus mengumumkan berdirinya Partai Politik Sipil yang berangkat dari rahim gerakan Hamas yang mampu menciptakan dan melakukan terobosan dan menggebrak kebekuan tembok “barat” yang selama ini menghalangi. Partai ini bertujuan melakukan manajemen dan mengatur urusan umum melakukan konsolidasi sikap rakyat Palestina dalam menghadapi segala macam ujian. Partai ini akan terinspirasi dari pemikiran Islam moderat yang mampu menampung dan mengakomodir semua komponen masyarakat Palestina dan mampu berinteraksi serta menyesuaikan diri dengan pihak-pihak di negara di kawasan regional dan internasional. Biarlah Hamas tetap akan menjadi judul besar “perlawanan, pembinaan dan pembangunan manusia Palestina”. Kedua, Hamas harus melakukan revisi terhadap piagam gerakan Hamas yang dirumuskan tahun 1988 yan lebih lebih mengedepankan narasi agama untuk mobilisasi massa. Barangkali narasi ini membutuhkan revisi untuk dilakukan penilaian terhadap pasal-pasal dan pengertiannya. Sehingga Hamas mampu melakukan manuver dengan masyarakat internasional dan konsitusi internasional serta membentuk sistem politik peradaban yang mampu merespon kebutuhan kebutuhan semua warga dan mengerahkan seluruh energinya demi mewujudkan proyek pembebasan Palestina. (bsyr) Kolumnis Palestina Harian Al-Quds Arab London

Pemukim Zionis Nodai Pelataran al-Aqsha

reza -Sekelompok pemukim radikal Zionis Ahad pagi
tadi menyerbu pelataran masjid
al-Aqsha dari arah gerbang Al-
Mugaribah dibawah perlindungan
ketat kepolisian Zionis untuk
melakukan aksi provokativ di dalam masjid kaum muslimin. Dikutip Pusat Informasi Palestina
(PIC) mereka berjalan-jalan di
lingkungan al-Aqsha, mencakup
Qubbah Sakhra, musholla Marwan
dan Al-Qibali. Sementara itu, jama’ah al-Aqsha
dan para pelajar dari sekolah al-
Quds Kota Lama serta pelajara
yang berada di dalam masjid al-
Aqsha menyebar ke seluruh
penjuru, mengingatkan Zionis kalau-kalau terjadi bentrokab
antara muslimin dan kelompok
Zionis di dalam al-Aqsha. Sementara itu, kelompok radikal
Yahudi merusak sejumlah mobil
warga Palestina yang diparkir di
sekitar al-Aqsha. Saksi mata mengatakan,
pemukim Zionis dini hari Ahad tadi
sengaja merusak sejumlah mobil
milik warga yang sedang diparkir
di sekitar kmplekz Shimon Shadi,
dekat Al-Jarrah, Al-Quds.* Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar hidayatullah

Media Menstigma Muslim Rusia

rusia

– Merasakan sedikit rasa kebencian yang tumbuh dalam
masyarakat mereka, Dewan Mufti Rusia telah
menuduh media menodai citra Muslim Rusia,
menyebarkan kesalahpahaman tentang Islam,
jilbab dan masjid. “Seperti mereka yang ada di barat, orang-
orang takut dengan pembangunan masjid
baru,” kata wakil ketua Dewan Mufti Rusia,
Rushan Abbyasov, dikutip oleh kantor berita
Interfax, Rabu 2 Oktober, demikian lansir
onislam.net. “Pihak berwenang setempat juga kadang-
kadang menunjukkan kurangnya
pemahaman. Sebagai akibat dari kebijakan
media ini, orang juga takut pada jilbab,
larangan yang di sekolah bahkan telah
berkembang menjadi isu politik,” tambahnya. Komentar Abbyasov diberikan setelah
pertemuan yang dihadiri oleh analis
terkemuka dari komisi AS, Catherine Cosman,
dan sekretaris pertama dari bagian politik
Kedutaan Besar AS di Rusia, Patrick Horne. Federasi Rusia adalah rumah bagi sekitar 23
juta Muslim terutama yang tinggal di
Kaukasus utara dan selatan antara lain di
republik Chechnya, Ingushetia dan Dagestan. Islam adalah agama terbesar kedua di Rusia
yang mewakili sekitar 15 persen dari
populasi yang didominasi Kristen Orthodox
yang mencapai 145 juta. Pemimpin Muslim tersebut menyatakan
keprihatinannya atas kenyataan bahwa
media massa sering mengaitkan Islam
dengan ekstrimisme. Menurut Abbyasov,
banyak orang mengaku paham dengan Islam
namun berbicara buruk tentang Islam di media. Sehingga kata-kata mereka
mempengaruhi banyak orang. “Sayangnya, pemerintah regional dan lokal
kadang-kadang mengikuti langkah mereka
tanpa menyadari bahaya akan situasi yang
muncul,” tambahnya. Pandangan buruk tentang Islam terbaru
muncul dengan keputusan sebuah pengadilan
di Rusia yang menyatakan terjemahan Al
Quran karya Elmir Kuliyev sebagai buku yang
mengarahkan pada ekstrimisme. Sebuah larangan serupa keluar pada Juni 2012
tahun lalu termasuk larangan 65 buku-buku
Islam yang dianggap tulisan ekstremis oleh
pengadilan. “Ini dan cara yang dilakukan merupakan
indikasi tidak adanya hormat, tidak hanya
terhadap Muslim Rusia tetapi terhadap agama
apapun, termasuk ajaran keesaan Tuhan,”
kata Abbyasov.

Muslim daily

Sniper Hebron Torehkan Kebahagiaan Di Gaza Meski Dalam Blokade

sniper

Gaza-PIP: Warga Gaza berbahagia menyambut kabar tewasnya tentara zionis di kota Hebron, Tepi Barat Selatan, kabar ini meringankan penderitaan yang mereka alami akibat blokade. Operasi sniper yang menewaskan tentara zionis di dekat Masjid Ibrahimi Hebron, membuat ciut nyali zionis, akan aksi serupa di beberapa kota lainnya, terutama karena sebelumnya seorang tentara zionis tewas dibunuh di kota Qalkilia. Kebahagiaan merebak di Gaza, bersamaan dengan parade militer sejumlah faksi perlawanan yang dilakukan hampir setiap hari, terutama oleh Brigade Al-Qassam, sayap militer gerakan Hamas. Seorang aktifis pemuda, Muad Amudi di laman facebooknya menulis, sudah dekat waktu Shalit di Tepi Barat, saat ini Tepi Barat adalah tanah yang subur bagi perlawanan dan harus dimanfaatkan. Ikatan Gaza Dan Tepi Barat Sementara itu Romi Al-Jundi menulis “Aku kagum dengan ide sniper, terutama di Hebron.” Ia mengaitkan hal ini dengan kesiapan faksi-faksi perlawanan untuk menghadapi setiap agresi zionis terhadap Gaza. Menurutnya, bisa jadi pesan yang ingin disampaikan Brigade Al-Qassam lewat parade militernya di segenap kota Gaza, bersamaan dengan rencana zionis mengisolasi Gaza secara politik dengan memanfaatkan kondisi politik Arab untuk memukul perlawanan. Operasi sniper ini bisa membuat jera zionis yang tidak pernah diprediksi pimpinan penjajah sebelumnya, dan semua yang terjadi merupakan persiapan untuk konfrontasi mendatang. Warga di Gaza yakin, otoritas Palestina memberikan legalitas bagi zionis untuk melakukan yahudisasi dan proyek pemukiman, memburu perlawanan yang hendak menggelar operasi melawan penjajah. Dalam konteks yang sama, seorang wartawan Muhammad Manshur menyatakan, “Kami tunggu kecamanmu wahai penjual Shafed” yang dimaksudkannya adalah kecaman ketua otoritas Mahmud Abbas terhadap operasi terakhir di Tepi Barat, sebagaimana langkahnya menyerahkan kota Shafed kepada zionis. Sementara Hamas menyampaikan apresiasi terhadap operasi Hebron, dan menyebutnya sebagai respon alami atas kejahatan penjajah zionis terhadap Masjidil Aqsha dan upayanya menghapus persoalan Palestina. Tepi Barat Bangkit Pengamat politik Adnan Abu Amir menyatakan, bangkitnya operasi perlawanan di Tepi Barat akhir-akhir ini, mengobarkan cahaya merah di Israel, karena sukses mengulangi skenario penculikan Shalit. Abu Amir menjelaskan kepada Pusat Informasi Palestina, penjajah zionis menggagalkan 30 upaya penculikan warga dan tentara zionis sejak awal tahun ini, dan menangkap puluhan pejuang perlawanan di Tepi Barat yang merencanakan operasi. Adnan menyebutkan, situasi ini menumbuhkan perlawanan di Tepi Barat, di saat otoritas sibuk menggelar perundingan damai dengan penjajah, yang justru melegalkan pelanggaran terhadap Al-Aqsha dan Al-Quds, lewat penggalian terus-menerus di bawah Masjidil Aqsha dan yahudisasi serta pembagian waktu dan tempat ibadah. Dalam konteks ini Abu Amir menyatakan, arena pertikaian dengan Israel adalah di Tepi Barat, yang terus mengobarkan bara di bawah kaki militer dan pemukim zionis, serta meningkatkan eskalasi perlawanan yang mampu menghilangkan proyek penghapusan persoalan Palestina. Maka dari itu, eskalasi perlawanan individu maupun terorganisir di Tepi Barat, artinya pukulan bagi keamanan “Israel”, di samping Tepi Barat merupakan arena panas setelah pihak keamanannya melakukan kerjasama dengan pihak penjajah zionis. (qm)