Masalah Gaza dan Suriah adalah Perang Akhir Zaman

Kita juga harus ingat bahwa Iran mendukung
Bashar Al Assad di Suriah. Jadi masalah Gaza
juga tidak bisa dipisahkan dengan masalah
Suriah SEKITAR seminggu yang lalu Bahtiar Nasir,
Presidium Spirit of Al Aqsha, berhasil
mengunjungi Jalur Gaza bersama delegasi
dari Indonesia. Banyak cerita dan fakta baru
terungkap. Ia bahkan sempat bertemu PM
Ismail Haniyah dan bersilahturahim para pejuang Izzudin Al-Qassam. Apa saja catatan-catatan yang menginspirasi
kita semua dari Jalur Gaza? Sekjen Majelis
Intelektual dan Ulama Muda Indonesia
(MIUMI) inipun membagi kisahnya dalam
sebuah wawancara dengan hidayatullah.com.
Berikut petikan wawancaranya.* Apa tujuan Anda ke Gaza kemarin? Ustad Bahtiar Nasir (UBN): Berangkat ke Jalur
Gaza adalah impian sejak dahulu.
Sebelumnya saat Israel menyerang Gaza di
tahun 2009 saya sudah sangat ingin ke sana.
Namun kesibukan berdakwah membuat
semua rencana harus tertunda. Gaza adalah bumi ribath (berjaga-jaga di medan jihad,
red), setiap orang mukmin harus memilih
rasa untuk mengunjungi bumi ribath. Pada kondisi perang Gaza sekarang sempat
atau tidak, wajib bagi diri saya
menyempatkan diri mengunjungi Gaza. Dan
ini menjadi salah satu tarbiyah tertinggi.
Merasakan ruh jihad, mengambil ruang untuk
ikut terlibat dalam tanggung jawab jihad membela Palestina. Bumi ribath tempat kiblat
pertama umat Islam. Alhamdulillah sayapun
memutuskan berangkat. Siapa saja yang berangkat bersama ustad? UBN: Saya berangkat bersama tujuh orang
anggota dari komisi I DPR RI. Ada juga 7
orang dari perwakilan media di Indonesia.
Ada beberapa NGO Indonesia juga ikut
bersama. Saya sendiri mewakili lembaga
Spirit Of Aqsha dan sebagai Sekjen MIUMI. Bagaimana sikap masyarakat Gaza atas
kehadiran ustad dan delegasi Indonesia? UBN: Setelah sampai di Mesir, kami
berangkat menuju Gaza menggunakan bis
yang disediakan kedutaan besar RI di Mesir.
Sampai di Gaza, kami pertama kali disambut
secara kenegaraan dengan tata cara yang
sangat sederhana. Setelah itu, panita membawa kami langsung ke gedung
parlemen Gaza. Parlemen ini semuanya
orang Hamas. Ada juga para syaikh-syaikh
Jalur Gaza. Meski berumur lanjut semangat
jihad mereka subhanallah begitu kuat terasa.
Rombongan kami dipimpin oleh Suripto dari KNRP dan Ketua Lomisi I, Mahfudz Shidiq. Bagaimana kondisi warga Gaza sendiri? Subhanallah. Berbeda dengan pemberitaan
yang ada. Saya tidak menemukan raut
kesedihan dalam wajah mereka. Mereka
terlihat senang dan gembira. Mendengarkan
kondisi Gaza terbaru. Saat saya tiba di Gaza
itu bersamaan dengan PBB Menerima status Palestina sebagai negara. Banyak rakyat
Gaza merayakan keputusan PBB itu. Para pemuda dari kalangan Fatah bahkan
membuat konvoi keliling kota. Mereka
melantunkan lagu-lagu nasyid di atas mobil
mereka. Jangan salah, mobil mereka full
sound system yang layak. Namun, saya tidak melihat warga pro Hamas
atau Hamas sendiri ikut merayakan
kebijakan PBB itu. Alasan utama kelompok
Hamas jelas. Mereka menolak solusi dua
negara. Hamas tetap berpegang pada
perjanjian tahun 1948. Hamas tetap menuntut wilayah Palestina 80 persen dan Israel 20
persen. Saat ini justru terbalik Israel telah
merebut 88 persen wilayah Palestina. Bagaimana kondisi fisik pasca dibom? UBN: Secara fisik Gaza tidak terlalu banyak
berubah. Memang ada gedung yang hancur.
Tapi alhamdulillah kehancuran Gaza tidak
terlalu parah. Sekarang masih jauh lebih baik
dibanding serangan Israel tahun 2009. Satu
lagi, masyarakat Gaza juga tidak memiliki rasa takut. Suasana kota tetap tenang. Semua
baik-baik saja. Mereka justru bangga bisa
berjihad melawan Zionis-Israel. Ada yang cukup menarik di sana. Saya
menemukan orang-orang dari Jamaah
Tabligh (JT) hingga jamaah Salafy ikut
berjihad bersama. Secara kuantitas Hamas
adalah mayoritas. Mereka semua berjihad
bersama-sama melawan Zionis-Israel. Pertempuran Gaza kali ini membuat
kekuatan umat Islam bisa diukur. Jika tahun
2009 kita perlu 23 hari, kali ini kita hanya
perlu 8 hari untuk membuat Zionis-Israel
ketakutan. Ini berarti perlawanan Jalur Gaza
sudah memiliki kualitas yang meningkat. Siapa saja yang Anda temui? UBN: Ya saya bertemu PM Ismail Haniyah.
Saya menyampaikan langsung amanah umat
untuk Palestina. Amanah itu berupa dana.
Selain dari Spirit Of Aqsha ada juga titipan
dana dari Wahdah Islamiyah. Ismail Haniyah, subhanallah dia orang yang
sangat bersahaja dan rendah hati. Hidupnya
sangat sederhana. Untuk ukuran perdana
menteri rumahnya sangat sederhana.
Mejanya saja hanya terbuat dari plastik. Di
dinding rumahnya ada foto-foto para syuhada Hamas. Selain foto Syeikh Ahmad
Yassin ada juga foto Hasan Al Banna dipajang
olehnya. Setiap kali bicara jihad, Ismail sangat
bersemangat. Saya sangat belajar
ketawadhu’an beliau. Ketika shalat maghrib,
beliau menjadi imam. Suaranya merdu
sekali. Bacaannya fasih dan indah. Apa saja pesan yang disampaikan? Ada 3 pesan umum dia untuk Muslim di
Indonesia. Pertama ia mengingatkan agar
persaudaraan dan hubungan bilateral
Indonesia jangan terputus. Kedua, Ismail juga berterima kasih atas
dukungan Indonesia kepada Palestina.
Indonesia itu baginya jauh di mata tapi selalu
dekat di hati. Yang terakhir, ia berharap
dukungan dan bantuan Indonesia tetap
berkesinambungan. Apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh Gaza
selain bantuan kemanusiaan? UBN: Yang dibutuhkan Jalur Gaza yang
pertama adalah senjata. kedua juga senjata
dan yang ketiga juga masih senjata. Keempat
baru mereka butuh bantuan kemanusiaan.
Yang kelima adalah doa kita semua. Jadi salah kalau prioritas membela Gaza
adalah kemanusiaan. Gaza itu bumi ribath,
bumi jihad. Ini serius. Mereka memang butuh
sarana pendidikan, kesehatan dsb tapi
senjata lebih penting dan utama di sana. Bantuan dana untuk persenjataan jauh lebih
prioritas bagi mereka. Saat ini Izzudin Al
Qassam mampu memproduksi roket sendiri.
Dulu jika mereka beli roket dari luar negeri
bisa menghabiskan dana kurang lebih 200
USD untuk 1 roket. Jika mereka produksi sendiri biaya produksi bisa dihemat hingga
setengah biaya beli roket ke pihak asing. Beberapa media menulis hubungan dan
bantuan Iran dengan Hamas? UBN: Di Gaza memang ada faksi Syiah yaitu
Jihad Islam. Tapi jumlah mereka kecil. Hamas
paling dominan. Peran Iran di Gaza sangat
kecil. Roket yang dipakai menyerang Tel
Aviv oleh Izzudin Al Qassam bukanlah roket
Fajar 5 milik Iran, tapi 1300 roket Hamas yang masuk ke Tel Aviv itu adalah roket Al
Qassam. Roket Al Qassam hanyalah salah
satu persenjataan yang teknologinya murni
buatan kader-kader Hamas. Selain roket
tersebut, Izzudin Al Qassam juga sudah
mampu membuat granat hingga bazooka. Roket Iran memang ada tapi sedikit, itupun
banyak dipakai oleh Jihad Islam bukan
Hamas. Hamas sudah memiliki teknologi
sendiri. Yang perlu diingat juga, Hamas menerima
bantuan dari Iran bukan berarti mentolerir
akidah Syiah-nya. Kalaupun ada kesepakatan
kerjasama itu hanya sebagai manuver politis
bukan karena kesamaan akidah. Satu lagi,
bukan hanya Iran, orang Kristen, atheis, komunis atau apapun kalau memberi
bantuan roket pasti akan diterima. Hamas
juga mengapresiasi sikap Hugo Chavez dan
pemimpin-pemimpin dunia yang turut
mengecam arogansi Zionis-Israel. Jadi rasa
terima kasih Hamas bukan hanya ke Iran semata. Semua rasa terima kasih itu tidak
lebih sebagai sebuah kepentingan politik. Sekali lagi, yang banyak menggunakan roket
Iran adalah Jihad Islam bukan Hamas. Iran
benar-benar memanfaatkan ini untuk
pencitraan. Kita juga harus ingat bahwa Iran
mendukung Bashar Al Assad di Suriah.
Bashar termasuk yang menutup kantor Hamas di Damaskus. Jadi masalah Gaza juga
tidak bisa dipisahkan dengan masalah Suriah. Bagaimana peran Mesir? lebih besar mana
peran Mesir dengan Iran? UBN: Kenyataannya yang berperan justru
Mesir dan Turki. Mursy dan Endrogan punya
peran vital dalam gencatan senjata di Jalur
Gaza. Sekali lagi Iran hanya menggunakan
momen ini untuk pencitraan di dunia Islam.
Kita semua tahu bagaimana Iran membela Bashar Al Assad di Suriah habis-habisan.
Padahal bantuan Iran untuk Jalur Gaza
kurang signifikan. Ironis kalau Iran membela
Gaza namun pada kondisi yang sama ikut
mendukung Bashar Al Assad membantai
kaum Ahlus Sunnah di Suriah. Bukankah Iran baru melakukan press release setelah
gencatan senjata? Seperti apa hubungan antara masalah Jalur
Gaza dan Suriah ? UBN: Keberadaan Mesir dan Turki yang
kuasai oleh Al Ikhwan al Muslimun telah
menjadi ancaman tersendiri baik semua
kelompok anti Islam. Jika Suriah juga
dipegang oleh Ikhwan atau kelompok Islam,
maka sudah ada tiga Negara yang sangat anti kepada Israel mengepung Negara Zionis
itu. Ini sangat mengkhawatirkan Benyamin
Netanyahu. Itulah kenapa isu Suriah harus
dialihkan. Memang ada usaha pengalihan isu
Suriah. Dengan adanya Gaza di serang Israel
perhatian dunia seketika pindah ke Gaza. Bantuan-bantuan kemanusiaan jadi lebih
prioritas di Gaza. Padahal musim dingin di
Suriah lebih mencekam. Sekarang kita harus
menghangatkan kembali isu Suriah agar
umat tidak terlena dengan gerakan Syiah. Di Surat At Tien sendiri Al-Qur’an
menceritakan keterkaitan antara Damaskus
dan Baitul Maqdis. Kunci pertahanan Baitul
Maqdis ada di Gaza. Namun kunci
penaklukannya ada di Damaskus. Gaza, Mesir
dan Damaskus ada dalam satu wilayah Syam. Bagi umat Islam di Syam untuk apa
kita tinggal di Gaza jika tidak bisa shalat di Al
Quds? Untuk apa kita bisa shalat di Al Quds
tapi tidak bisa membebaskan Al-Quds? Dan
untuk apa kita membebaskan Al Quds tapi
sekitar tanahnya masih di jajah Zionis Israel? Ruh ini sudah tertanam di Gaza hingga Suriah.
Ini perang akhir zaman, dan faktanya Zionis
akan selalu jadi musuh bersama umat
Islam.*

Rep: Thufail Al Ghifari
Editor: Cholis Akbar

Hidayatullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s