MURSI – SOEKARNO ANTARA MESIR- INDONESIA DALAM DEMOKRASI DUNIA

Demokrasi kembali di ciderai. Pemerintahan
hasil pemilu yang demokratis dan
konstitusional di mesir di jagal oleh kekuatan
militer. Presiden mesir, Mursi dipaksa turun
dari jabatanya oleh  pihak militer. Mursi
selanjutnya di tahan di suatu tempat oleh jendral al sisi, si pemimpin kudeta.
Pemerintahan baru yang di sebut
pemerintahan transisi di bentuk dengan adly
mas our sebagai presidenya. Meskipun
demikian presiden baru ini tak ubahnya
boneka, karena sesungguhnya penguasa yang sebenarnya tetaplah sang jendral yang terus
bergerak di balik layar. Uniknya meskipun secara kasat mata, apa
yang terjadi di mesir adalah kudeta militer,
namun tidak semua Negara berani
menyebutnya sebagai kudeta. Â Seperti
Amerika sendiri tampaknya masih banyak
pertimbangan, mempertimbangkan kepentinganya sendiri. Untung rugi. Begitulah
selamanya. Sebagai pendekar penegak
demokrasi dan HAM Â di dunia tidak terlihat
Amerika “marah atau tersinggung�
 ketika barang daganganya  di injak-injak
oleh al sisi. Begitu juga dengan Negara-negara pelopor  pengusung demokrasi lainya. Sepertinya demokrasi memang hanya boleh
di tegakkan dan dimiliki oleh mereka saja Â
atau ketika sesuai dengan kepentingan
mereka. Jika tidak, maka demokrasi yang di
telah di lakukan oleh Negara lain yang tidak
sejalan dengan kepentinganya boleh di anulir. Ini telah terbukti pada penerapan demokrasi
di Aljazair yang di menangkan oleh FIS dan di
Palestina yang di menangkan oleh Hamas. Ini
tidak jauh berbeda dengan yang di alami oleh
mursi dan bangsa mesir. Setelah berpuluh
tahun terkungkung dalam demokrasi semu dan berletih lelah berusaha menegakkan
demokrasi yang sebenarnya  bangsa mesir
harus menerima kenyataan demokrasinya
cuma seumur jagung. Kedamaian melalui demokrasi tampaknya
memang tidak boleh di miliki oleh semua
bangsa. Demokrasi hanya boleh dimiliki oleh
mereka-mereka yang berada dalam satu
bingkai dengan amerika dan konco-konconya.
Isu demokrasi sering dijadikan sebagai senjata untuk mendongkel para penguasa
 yang tidak di kehendaki keberadaanya.
Indonesia pernah mengalami nasib serupa.
Ketika soekarno memerintah Negara ini
terlihat lebih condong arahnya ke kiri
(sosialis), dekat dengan china dan rusia maka soekarnopun di gulingkan. Para ahli sejarah
menuliskan bahwa ada “agen-agen�
asing yang berperan dalam meruntuntuhkan
kekuasaan Soekarno kala itu. Ketika
Soekarno tidak lagi loyal kepada mereka
maka harus berakhir riwayatnya. Meruntuhkan kekuasaan ini dapat di lakukan
dengan tiga  cara. Pertama dengan
meniupkan isu demokrasi dan HAM .
Memprovokasi rakyat dan para pemimpin
sipil yang ada di Negara itu untuk
menggulingkan kekuasaan. Kedua dengan menggunakan kekuatan militer. Ketiga
dengan campuran kedua-duanya. Bukan Cuma
Indonesia yang pernah di perlakukan seperti
itu. Banyak Negara lain mengalami hal
serupa. Namun anehnnya Negara atau pemimpin yang
dictator sekalipun akan tetap exis dan aman
kekuasaanya dan didukung  para adikuasa
dunia itu asalkan mereka mau dan bersedia
melayani kepentigan mereka. Inilah standar
ganda atau politik bermuka dua yang di terakan para pengusung demokrasi di dunia. Nyata sudah bahwa  existensi sebuah
Negara atau pemimpin TIDAK TERGANTUNG
DITERAPKANYA DEMOKRASI ATAU TIDAK DI
NEGARA ITU Â tetapi tergantung pada
seberapa jauh MEREKA MAU MELAYANI PARA
NEGARA ADIKUASA ITU. Indonesia pada masa yang akan datangpun
demikian. Jika ingin aman dan selamat,
siapapun pemimpinya maka dia harus mau
menjadi pelayan dan budak para Negara-
negara majikan demokrasi. Jika tidak maka
tidak menutup kemungkinan dia akan di â €œmursi-kanâ€� atau di “sukarno-
kan�. Berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah
hanyalah tinggal pepatah para tetua negri ini,
nyatanya sebagian dari kita sebebanrnya
adalah budak-budak bangsa asing. Beranikah
generasi baru kita melawan seperti Soekarno
Kita tunggu datangnya SOEKARNO BARU yang berani berteriak  “ GO TO HELL WITH
YOUR AID� agar kita berdiri sama tinggi
duduk sama rendah. Bukan bangsa kuli yang
di rendahkan.

Kompasiana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s