1.300 Sipil Suriah Tewas Akibat Serangan Gas Beracun

Damaskus, MDTV: Pemerintah Suriah dan pemberontak militan saling tuding dalam serangan gas beracun yang menelan ribuan korban jiwa dan ratusan meninggal dunia. Menteri Informasi Suriah, Omran al-Zoubi dalam wawancara dengan stasiun TV Libanon, Al-Mayadeen menyalahkan para pemberontak yang memerangi rezim dalam serangan kimia itu. “Roket ditembakkan dari arah mereka dan jatuh di tengah penduduk sipil. Mereka bertanggung jawab (atas peristiwa tersebut),” ujarnya. Sementara dari pihak pemberontak yang dilansir media setempat, membantah penggunaan senjata kimia tersebut. Bahkan pihak militan menuding gas beracun tersebut sengaja digunakan oleh pemerintah untuk membuat sentimen negatif terhadap pihak militan Suriah. Penggunaan senjata kimia berupa gas beracun mendapat perhatian sekaligus kecaman negara-negara dunia. berdasarkan pengamatan lembaga bantuan internasional, Doctors Without Borders mencatat, sebanyak 355 tewas dan 3.000 lainnya mengalami cedera karena dampak serangan gas beracun, Rabu (21/8) lalu. Para korban kini dirawat di tiga rumah sakit berbeda di Damaskus timur. Sedangkan data yang dihimpun dari aktivis anti pemerintah mengatakan korban tewas mencapai 322-1300 orang. Dilansir Wall Street Journal, badan ini mencatat, para korban meninggal karena mengalami keracunan syaraf, sekitar tiga jam usai serangan senjata kimia. Meskipun Doctors Without Borders belum bisa memastikan mengenai penggunaan senjata kimia, laporan itu meningkatkan tekanan pada pemerintahan negara Barat untuk memberi tanggapan. Para pejabat Amerika Serikat mengatakan bahwa jika lembaga intelijen menyimpulkan terdapat penggunaan senjata kimia dalam skala luas oleh rezim Assad, Presiden Barack Obama dapat mengajukan opsi untuk melakukan serangan militer terhadapnya. Lembaga asal Paris, Perancis itu mengungkap
para pasien yang dirawat di ketiga rumah sakit diberikan obat atropine yang biasa digunakan untuk merawat pasien dengan gejala keracunan syaraf. “Gejala yang dialami pasien, meningkatnya jumlah pasien yang dirawat dalam tempo singkat, asal pasien, serta kontaminasi alat medis dan pekerja pemberi pertolongan pertama dengan kuat mengindikasikan adanya paparan masal terhadap agen racun syaraf,” tegas lembaga itu. “Itu bisa menjadi pelanggaran hukum kemanusiaan internasional yang dengan tegas melarang penggunaan senjata kimia dan biologis,” demikian bunyi rilis badan itu. Lembaga itu mengatakan tengah berupaya memungkinkan kembali pengadaan atropine.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s