Mengapa Ikhwan Selalu Terdzalimi Oleh Militer Mesir?

Mengapa Ikhwan Selalu Terdzalimi Oleh Militer Mesir?.

Zulkinofr

Mereka selalu mengalunkan lantunan do’a pagi dan petang,
sambil terus berdzikir mengingat Rabbnya.
Begitu mereka menjalani kehidupan. Ketika
mereka dipenjara pun, tak pernah lupa,
selalu mengalunkan untaian do’a rabithah. “Ya Rabb, sesungguhnya Engkau Maha
Mengetahui bahwa hati-hati itu telah
berhimpun untuk mencurahkan mahabbah
hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat
kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru
dakwah di jalan-Mu, berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah
ikatan pertaliannya, ya .. Rabb, abadikanlah
kasih-sayangnya, tunjukkan jalannya, dan
penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan
pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan
limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu. Hidupkanlah dengan ma’rifat-Mu,
dan matikanlah dalam keadaan syahid di
jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik
pelindung dan sebaik-baik penolong. Amiin.
Dan semoga shalawat serta salam selalu
tercurah kepada Muhammad, keluarganya, dan semua shahabatnya”. Do’a yang menjadi penguat hati itu, tak
pernah ditinggalkan betapapun sulitnya
kondisi yang mereka hadapi.Dari masa ke
masa. Dari rezim ke rezim lainnya. Para anggota Ikhwan selalu mendambakan
satu tujuan, yaitu mati syahid, dan menjadi
syuhada’. Semboyan mereka tertanam dalam
jiwa dan raga, yang begitu agung, yaitu “hidup mulia atau mati syahid”. Mati syahid menjadi cita-cita tertinggi mereka,
dan mereka selalu mendambakan sebagai
syuhada yang kelak mendapatkan
jaza’ (balasan), sebagai mana para salaf,
yaitu al-jannah, dan kekal selamanya. Karena itu, para anggota Ikhwan dan para
pemimpinnya bisa selalu sabar, dan memiliki
sikap tsabat (teguh), betapapun beratnya
cobaan yang mereka hadapi. Tak pernah
mereka kemudian menjadi “insilah”
(berkhianat) terhadap cita-cita yang menjadi keyakinan mereka. Mereka tetap berada
dalam barisan dakwah Ikhwan, betapapun
sulitnya kondisi yang mereka hadapi. Mereka memiliki cita-cita yang sangat mulia,
selain hanya mengharapkan ridha dari
Rabbnya semata, tetapi setiap anggota
Ikhwan telah tertanam dalam dada mereka,
kewajiban yang melekat yaitu
membebaskan negeri-negeri muslim yang terjajah. Maka, ketika awal Jamaah Ikhwan berdiri,
dan menginjak dekade kedua, saat berdiri
entitas Zionis-Israel, di tanah Palestina,
pendiri Jamaah Ikhwan menyerukan jihad,
dan ribuan kader Ikhwan bergegas menuju
Palestina melawan dan berjihad menghadapi perampok dan perampas tanah rakyat
Palestina, yaitu Zionis-Israel. Jamaah Ikhwan selalu terlibat dengan sangat
aktive membebaskan negeri-negeri muslim
yang dijajah. Seperti Afghanistan. Di mana
tandzim Ikhwan dan tokoh-tokohnya terlibat
aktif, berjuang bersama dengan Harakah
Islamiyah lainnya, membebaskan Afghanistan dari tangan Soviet. Peran Mursyid ‘Aam Jamaah Ikhwanul
Muslimin, Mustafa Masyhur, dan sejumlah
tokoh Ikhwan lainnya, seperti Abdullah
Azzam, mengerakan pemuda-pemuda
Ikhwan seluruh dunia, berjihad melawan
penjajah Soviet. Bersama kaum muslimin Afghanistan dan
tokoh-tokoh jihad lainnya, membebaskan
negeri itu dari tangan-tangan penjajah.
Sampai hari ini, Ikhwan tak pernah diam
terhadap penjajahan yang terjadi di Irak,
Palestina, Afghanistan, Bosnia, Chechnya, Somalia, dan sejumlah wilayah lainnya. Meskipun, sejak Jamaah Ikhwanul Musliminn
didirikan oleh Hasan al-Banna, tahun l928, tak
pernah lepas dari mihnah (cobaan), dan
petaka yang silih berganti. Bahkan, pendiri
Jamaah Ikhwan, Hasan al-Banna, tewas
ditembak oleh militer di zaman Raja Farouk. Kolaborasi antara Raja Farouk dan penjajah
Inggris, membunuh Hasan al-Banna. Para pemimpin Ikhwan dan kader-
kadernya,mereka tak pernah luput dari
kejaran para penguasa, dan mereka
menghadapi penjara puluhan tahun. Mereka
menghadapi penyiksaan. Mereka
menghadapi penderitaan yang luar biasa. Tetapi, mereka tetap bersabar, dan tak
pernah menyerah dengan segala bentuk
kezaliman yang terus menjadi penguji
keimanan mereka. Selain Mursyid ‘Aam pertama Hasan al-
Banna, yang tewas dibunuh, tokoh
penggantinya,seperti Hasan Hudaibi, Umar
Tilmisani, Hamid Abu Nasr, Mustafa Masyhur,
Ma’mun Hudaibi, Mahdi Akif, dan sekarang
Mohamad Badie, semuanya merasakan manis dan pahitnya hidup dipenjara. Mereka
benar-benar menghayati kekejaman dan
kezaliman para penguasa Mesir. Tetapi, para pemimpin dan anggota Ikhwan
tak pernah letih, tetap bersabar. Tak
mengeluh dengan segala penderitaan yang
mereka alami. Mereka menyadari
sepenuhnya. Sebab, menegakkan dan
membela agama Allah, al-Islam, pasti akan menghadapi segala resiko dan tantangan
yang tidak sedikit. Sekalipun, penderitaan dan kesulitan yang
mereka hadapi, tak pernah sebanding
dengan apa yang dialami oleh para salafush
shallih, para shahabat, dan tabiin, ketika
mereka berjuang menegakkan agama Allah
itu. Karena itu, mereka tak pernah berkeluh kesah,dan tetap istiqomah. Seperti di hari Shubuh pagi, di depan gedung
pasukan Garda Republik, mereka dibantai
dengan tembakan, dan di alun-alun Masjid
Rabi’ah al-Adawiiyah, ratusan anggota
Ikhwan telah tewas, tak sedikitpun membuat
mereka, kehilangan kontrol dan commonsen (akal sehat), mereka tetap melanjutkan
gerakan mereka, menghadapi rezim militer
yang sangat lalim. Mereka sangat mengerti tentang siapa
musuh-musuh yang dihadapinya? Mereka
mengerti karakter dan tabiat musuh yang
mereka hadapi? Mereka tetap bersabar. Musuh-musuh Ikhwan yang menggulingkan
pemerintahan Presiden Mursi, tak lain,
musuh bangsa dan rakyat Mesir, yaitu
Zionis-Israel. Sementara itu, Raja Farouk,
Jenderal Mohamad Najib, Jendrar Gamal
Abdul Nasser, Marsekal Anwar Sadat, Marsekal Honsi Mubarak, hanyalah kaki-
tangan Zionis-Israel. Selamanya, kekuatan kaum kufur akan
bersatu padu menghadapi orang-orang
mukmin yang ingin menegakkan agama
Allah. Mereka tidak pernah ridha dengan
bangunan al-Islam. Mereka akan terus
selamanya, berusaha menghancurkan setiap bangunan Islam yang lahir, dan tumbuh di
muka bumi ini. Tetapi, Allah Rabbul Alamin,
menjanjikan kemenangan bagi orang-orang
mukmin. Dengan sebuah keyakinan para pemimpin
Jamaah Ikhwan dan anggotanya tentang
kemuliaan al-Islam, sebagai din yang
sempurna, dan adanya jaminan dari pemilik-
Nya, Allah Rabbul Alamin, Yang Maha Agung,
Maha Sempurna, Maha Tinggi Kekuasaan- Nya, dan tak ada kekuatan mahkluk yang
dapat menandinginya, maka para pemimpin
Jamaah Ikhwan terus berjalan menapaki
perjuangan menegakan dan meninggikan
agama Allah al-Islam. Betapapun mereka harus menghadapi cobaan
dan ujian yang sangat berat. Mereka
mengingat perjuangan Nabi Shallahu alaihi
wassalam, para shahabat, dan mereka
memahami bahwa perjuangan mereka tetap
tidak sebanding, bila dibandingkan dengan para shalafus shalih, ketika mereka awal
mendakwahkan agama Allah itu. Mereka tetap bersabar. Karena itu, mereka
tak pernah berkompromi dengan segala
bujukan, seperti yang sekarang dilakukan
oleh utusan Amerika Serikat, UEA (United
Emirat Arab), Qatar, dan Kuwait, yang
menemui mereka di penjara. Mereka akan tetap bersabar dan meyakini janji Allah Azza
Wa Jalla. Wallahu’alam.

Voa islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s