Idul Fitri: Jangan Kotori “Bayi” Fitri Ini!

Idul Fitri. Inilah hari di mana semua muslim
merayakannya sebagai hari kemenangan.
Entah berperang dengan siapa tau menang
melawan musuh yang mana, yang terpenting
esok hari kita akan merayakan Idul Fitri. Secara etimologi, Idul Fitri berarti “kembali
berbuka”. “I’d” berasal dari kata
‘aada yang berarti “kembali”, sedangkan
al-fitr berasal dari akar kata “fathara”
yang berarti “berbuka”. Namun bagaimana
pun, terlalu kerdil jika kita menganggap Islam terlahir dengan paradigma materialistik.
Karenanya makna Idul Fitri tidak berhenti
sebatas urusan perut. Terlalu sempit bila
momentum Idul Fitri dipahami semata-mata
sebagai momentum diperbolehkannya
kembali makan dan minum. KH Musthafa Bisri dengan baiknya menangkap
momentum Idul Fitri yang lebih dari sekedar
urusan makan-minum semata. Dalam
karyanya, “Kompensasi”, Beliau merekam
berbagai tradisi Idul Fitri jaman dulu yang
mulai agak “luntur” bersamaan dengan majunya jaman. Dulu ketika kehidupan masih sederhana dan
sebelum orang kenal dengan makhluk yang
namanya materialisme, hari Idul Fitri diisi
dengan tradisi saling “anjang sana”,
silahturahmi dan saling memaafkan di antara
sesama. Bahkan menurut cerita orang tua, dahulu dalam bersilaturahmi, masing-masing
orang memperinci kesalahannya satu-
persatu. Hal tersebut mungkin tak akan lagi kita
temukan saat ini. Kartu lebaran mulai
menggeser tradisi “anjang sana” warga
perkotaan. Bahkan kini kartu lebaran pun
mulai ditinggalkan, diganti dengan HP. SMS
“Selamat Idul Fitri” dirasa cukup sebagai pengganti hangatnya jabatan tangan
silaturahmi. Jika demikian kita memaknai Idul Fitri, tak
lebih dari sekedar “halal” makan dan
minum di siang hari, niscaya ada nilai spritual
yang terlewati oleh kita takkala sebulan
penuh digembleng di kawah candradimuka
bernama “Ramadhan”. Akhirnya, mengutip Emha Ainun Nadjib, di
hari Fitri semua di antara kita kembali
kepada fitrah. Fitrah itu asli. Masih orisinil.
Fitrah itu dipunyai oleh seorang bayi yang
baru lahir. Bayi itu “telanjang”, tidak
banyak embel-embel. Tidak “rewel”. Bayi itu masih alam, belum budaya. Meng-Idul Fitri
berarti kembali “ngalam”, menanggalkan
setiap tindakan dan perilaku yang tidak
relevan dan yang destruktif terhadap
kemurnian alam. Jadi jangan sampi “bayi” Idul Fitri kita
kembali ternoda oleh dosa kita di sepanjang
waktu sesudah Ramadham berakhir. Selamat
Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir Dan Batin. Taqabballahu Minna Wa Minkum. Taqabballah
Ya Karim… Salam berang-berang. Selamat menikmati hidangan.

Kompasiana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s