Gaza Rayakan Lebaran di Tengah Keterpurukan Ekonomi

Tidak semua orang beruntung dapat merayakan Idulfitri di
tengah kecukupan. Sebagian besar warga
Gaza tetap antusias menyambut datangnya
Hari Raya umat Islam itu, meskipun kondisi
ekonomi Palestina sedang terpuruk. Ahmed Helmi, seorang penjaga toko
aksesoris wanita di Gaza mengaku gerai-
gerai dan vendor di kota yang menjadi lahan
sengketa antara Palestina—Israel itu
mengalami kerugian bisnis selama setahun
terakhir. “Kami hanya menunggu momen-momen
seperti libur Idufitri untuk mulai menutupi
kerugian kami,” ujar penjaga toko berusia
26 tahun itu, sebagaimana dilaporkan oleh
Xinhua. Dia menambahkan aktivitas bisnis di Gaza
tidaklah cemerlang sejauh ini. Banyak
pengusaha yang tidak tahu apa yang akan
terjadi dengan bisnis mereka setelah hari
raya berakhir, karena kondisi ekonomi
Palestina yang masih kacau akibat seteru dengan Israel dan perpecahan internal di
tubuh Palestina. Akhir Ramadan di Gaza sendiri diperkirakan
jatuh pada Rabu (7/8/2013), sementara umat
muslim di seluruh dunia akan merayakan
libur 3 hari untuk memperingati berakhirnya
bulan puasa. Bagi masyarakat miskin Palestina di Jalur
Gaza, Idul Fitri merupakan sebuah
kesempatan untuk bergembira dan
menggenjot konsumsi karena para orang tua
berbondong-bondong membeli pakaian dan
sepatu untuk anak mereka, dan para istri menyiapkan hidangan mewah untuk
keluarga besar. Selama libur Idulfitri, jalanan utama di pusat
kota Gaza menjadi sibuk. Akan ada banyak
pejalan kaki yang terlihat menenteng tas
belanja berisi kaos, celana panjang, dan
sepatu. Sebagian lainnya memborong
permen, tepung, dan mentega untuk membuat kue Lebaran. Majed Mattar, seorang warga yang memiliki
6 anak, mengaku tidak peduli dirinya
memiliki uang ataupun tidak, dia harus
memberikan yang terbaik untuk anak-
anaknya pada hari raya. Dia harus
membelikan pakaian dan sepatu baru, serta uang untuk membeli mainan baru. Berdasarkan laporan yang dirilis oleh
pemerintah Palestina dan pihak
internasional, angka kemiskinan di Jalur
Gaza mencapai lebih dari 60%. Sementara itu,
tingkat pengangguran di kawasan tersebut
merangkak naik ke kisaran 35%, terutama akibat perang melawan Israel serta
perpecahan antara kubu Hamas dan Fatah. Jalur Gaza memiliki populasi sekitar 1,8 juta
jiwa dan telah berada di bawah blokade
Israel sejak Hamas secara paksa mengambil
alih kekuasaan di wilayah tersebut pada Juni
2007. Untuk membendung serangan Israel, warga
setempat menggali ribuan terowongan di
bawah garis perbatasan antara Jalur Gaza
dan Mesir guna menyelundupkan makanan,
bahan bakar, dan obat-obatan. Akan tetapi,
dalam 3 tahun terakhir lebih dari 80% terowongan tersebut telah dihancurkan. (ltc) Sumber : Xinhua
Editor : Linda Teti Silitonga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s