turki waspadai militer

Kudeta Mesir bisa berimbas ke Turki. PM Erdogan bertindak cepat, mengamandemen undang-undang hingga militer tak memungkinkan melakukan kudeta. Kudeta militer di Mesir mengkhawatirkan banyak pihak. Ini kudeta tentara ke sekian kalinya terhadap kelompok Islam yang memenangkan pemilu secara demokratis seperti yang di alami Front Islamic Salvation di Aljazair pada 1992. Semua kudeta terhadap kelompok atau partai Islam itu di back-up dan didalangi kampiun demokrasi, Amerika. Ini sama saja Amerika mengkhianati ideologi demokrasinya sendiri. Seperti sudah menjadi patron bagi Amerika dan sekutunya yang saat ini merasa menjadi polisi global dunia, siapapun dan dimanapun kelompok Islam memenangkan pertarungan politik, harus dihancurkan dengan berbagai cara apapun. Maka pantaslah Turki yang kini tengah di goyang demo kelompok sekuler, meradang dengan kudeta Mesir. Jangan-jangan Turki juga akan di Mesir kan oleh kelompok sekuler yang di belakangnya di dukung Amerika. ”Kudeta Mesir ilegal”, ujar Perdana Menteri Turki Recep Tayyib Erdogan. Turki juga mengecam Amerika dan Eropa yang tak mau menyebut penggulingan Presiden Mursi oleh tentara sebagai sebuah kudeta ilegal. Apa yang terjadi di Mesir dan tergulingnya Muhammad Mursi oleh militer rupanya menjadi pelajaran bagi sejumlah negara kawasan. Turki adalah salah satu negara kawasan yang memiliki kekhawatiran kondisi di Mesir dapat terulang di Ankara. Apalagi kondisi negara ini dalam beberapa pekan terakhir mulai dipicu sejumlah kerusuhan. Kudeta Mesir juga memberi angin bagi kelompok sekuler yang tengah menentang pemerintahan yang condong Islami, seperti di Turki dengan partai AKP, dan Tunisia dengan Partai Islam An-Nahdah. Beberapa pihak sekuler Tunisia menyambut penggulingan Mursi, dan berdasarkan kejadian di Mesir, mereka berupaya untuk meniru Tamarod Mesir, gerakan akar rumput yang mengusung protes anti-Mursi. Tapi hanya sedikit massa yang mengindahkan panggilan dari mantan tokoh- tokoh rezim Tunisia yang ingin menggoyang pemerintahan Islamis Tunisia. Di Turki kelompok sekuler masih terus meggoyang pemerintahan Recep Tayib Erdogan. Tapi Erdogan bertindak tegas. Polisi
anti huru hara Turki pada hari Sabtu, 13 Juli menembakkan peluru karet, gas air mata dan meriam air untuk membubarkan ratusan pengunjuk rasa yang mencoba untuk
memasukkan Istanbul Square sebagai kelanjutan kerusuhan mematikan itu melanda negara itu sejak bulan Juni. Khawatir tindakan militer Mesir menular ke Turki, Parlemen Turki pada hari Rabu (10/7) mengamandemen aturan militer agar tidak membuka jalan bagi intervensi militer dalam politik. Ini adalah langkah lain sebagai upaya pemerintahan pro-Islam untuk mengendalikan kekuatan militer terhadap kemungkinan kudeta. Militer Turki telah menggulingkan empat pemerintahan dari tahun 1960 hingga 1997, dan pernah juga mengeluarkan peringatan kepada pemerintah pada tahun 2007. Parlemen merevisi pasal 35, yang membatasi tentara hanya untuk “membela bangsa melawan nncaman eksternal dan bahaya,” demikian dilaporkan Anatolia News Agency. Amandemen adalah suatu formalitas, karena Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan sudah berhasil mendorong tentara kembali ke barak dengan sejumlah perubahan struktural : seperti otoritas sipil di atas militer. Ratusan perwira tinggi telah diadili, dan banyak dari mereka (para militer) didakwa merencanakan untuk melakukan kudeta. Meskipun militer belum masuk ke konflik tersebut. Atilla Sandikli, direktur Pusat Studi Strategis Ankara, mengatakan perubahan amandemen pasal itu juga merupakan upaya untuk memastikan militer tidak bisa kudeta. Dalam sejarahnya, Turki pernah menjadi salah satu kekuatan dunia dimana ke- khalifah-an Islam pernah berdiri. Yaitu Ke- khalifah-an Ottoman atau yang biasa juga disebut Kekaisaran Turki Utsmani. Maka dari itu mayoritas penduduk Turki 99% adalah Muslim. Karena berbentuk ke-khalifah-an, maka budaya-budaya dan tradisi Islam lah yang banyak berkembang dalam masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari bangunan-bangunan masjid, madrasah-madrasah, dan tradisi- tradisi dalam masyarakatnya. Puncak kejayaaan dari ke-khalifah-an ini ditandai dengan perluasan wilayahnya sampai ke Afrika Utara dan juga Eropa. Penaklukan yang paling terkenal adalah penaklukan Konstantinopel dari Bizantium pada masa kekuasaan Muhammad Al Fatih pada 1453. Selain itu ke-khalifah-an ini juga memiliki armada laut yang sangat maju pada saat itu. Tapi di Turki kini dikenal ada dua kekuatan besar, yaitu kelompok Pro-Sekuler dan kelompok Islami. Munculnya dua kelompok ini sendiri merupakan hasil dari dinamika sejarah panjang yang terjadi di negara itu. Di tengah kekuasaan kubu Islami, kelompok Pro Sekuler pun masih menjadi kekuatan oposisi yang cukup kuat di Turki saat ini. Dan dalam konteks kekinian, kelompok pro- sekuler adalah salah satu kelompok yang menggerakkan demo-demo bersama aktivis lingkungan, pelajar, bahkan fans dari klub bola Besiktas, Galatasaray, dan Fenerbahce. Sama halnya ketika bapak sekuler Turki Mustafa Kemal at-Taturk melancarkan program sekulerisasi misalnya saja bahasa Arab diganti dengan bahasa Turki, lembaga pendidikan agama ditutup, jilbab dilarang digantikan pakaian ala Barat baik pria maupun wanita, kalender Islam diganti dengan kalender masehi, dan bahkan perintah adzan dikumandangkan dalam bahasa Turki. Namun upaya ini sekularisasi yang dilakukan oleh pemerintahan at-Taturk ternyata tidak mampu untuk membuat kelompok Islami yang ada di Turki mati. Mereka masih tetap ada walaupun dengan beragamnya dinamika hubungan dengan pemerintahan Turki. Sepeninggal at-Taturk, masing-masing kubu menjadi dua kekuatan yang terus bersaing dalam memperoleh kekuasaan tertinggi. Kelompok Islami mulai menunjukkan peningkatan yang luar biasa pada tahun Desember 1995 setelah Partai Refah memenangkan pemilu dengan 21% suara. Kemudian di tahun 2002, salah satu partai yang didukung kelompok Islami, Adalet ve Kalkınma Partisi (AKP) berhasil memperoleh 34,1 % suara. Kemenangan AKP inilah yang menaikkan citra Recep Tayyib Erdogan sebagai pemimpin AKP, yang sekaligus menempatkan Erdogan sebagai Perdana Menteri Turki. Kemenangan itulah yang menandai bahwa kubu Islami mengalami masa berkuasa di Turki. Kini kaum sekuler masih terus menggoyang Turki dengan demo-demo massif. Meski kerusuhan dan aksi demo terbaru di Turki pada awalnya tidak berkaitan dengan politik, namun banyak kalangan yang memprediksikan kondisi di Turki bisa menyerupai di Mesir nantinya. Oleh karena itu, parlemen Turki menyepakati amandemen undang-undang angkatan bersenjata demi mencegah kudeta militer di negara ini. Koran Zaman dalam laporannya menyebutkan, perubahan butir 35 undang- undang angkatan bersenjata Turki yang memungkinkan militer untuk campur tangan di urusan politik, diratifikasi dengan suara mayoritas anggota parlemen. Butir 35 ditambahkan ke undang-undang angkatan bersenjata Turki pasca kudeta 27 Mei 1960. Undang-undang ini juga dimanfaatkan sebagai dalih kudeta militer pada 12 Maret 1971 dan 12 September 1980. Berdasarkan butir ini, militer bertanggung jawab menjaga dan melindungi pemerintahan Republik di Turki. Namun kini butir 35 undang-undang tersebut diubah dan kini militer bertanggung jawab mempertahankan wilayah Turki dari ancaman asing dan memperkokoh kemampuan mereka serta meningkatkan kemampuan pertahanan yang dimilikinya. Dalam butir ini disebutkan pula bahwa misi luar negeri militer untuk membantu perdamaian dunia harus mendapat persetujuan parlemen. Perubahan butir 35 diratifikasi di parlemen di saat hari Jum’at lalu, penulis di Koran Zaman dalam artikelnya mengungkapkan Turki terancam kudeta. Dalam artikelnya yang bertema “Apakah di Turki terdapat Kemungkinan Kudeta Militer?” ia menulis, Amerika dan Eropa akan mendukung kudeta dengan melupakan tolok ukur demokrasi ketika kepentingan mereka dapat diraih dengan adanya kudeta. Dukungan Amerika terhadap kudeta di Turki bukan hal baru. Sebelumnya di dekade 60- an, militer Turki mengkudeta pemerintahan legal The Welfare Party (Refah Partisi, RP). Kudeta tersebut berujung pada tumbangnya pemerintahan perdana menteri saat itu, Necmettin Erbakan. Amerika sendiri mendukung kudeta tersebut. Petinggi Turki meratifikasi butir undang-undang militer di parlemen dengan tujuan mencegah terjadinya kudeta militer. Sementara itu, di Turki kini beredar isu santer dan upaya oposisi untuk menumbangkan pemerintahan Recep Tayyip Erdogan. (msa dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s