Iran Membaca Tanda-tanda Zaman

TEMPO.CO, – Terpilihnya Hassan Rouhani, 64 tahun, dalam pemilu presiden Iran, 14 Juni lalu,
memberi kejutan bagi dunia. Kemenangan kubu
moderat yang disokong mantan presiden Mohammad
Khatami dan Akbar Hashemi Rafsanjani itu cukup
mengejutkan karena beberapa hal. Pertama, ia
bukan kandidat yang disokong pemimpin spiritual Ali Khamenei, yang menjagokan Saeed Jalili. Kedua,
meski dilumpuhkan dalam kekacauan pemilu 2009,
kubu moderat ternyata mampu juga
mengkonsolidasi diri. Ketiga, di tengah arus
radikalisasi di Timur Tengah, rakyat Iran justru
menengadahkan wajah ke arah moderasi. Yang lebih mengejutkan, aspirasi moderasi tak
kurang dari 50 persen pemilih Iran ini juga diterima
sewajarnya oleh Khamenei selaku penguasa Iran
tertinggi. Padahal, dalam pemilu presiden 2009,
Khamenei merespons keras protes-protes yang
dipicu kecurangan pemilu yang mengantarkan Presiden Mahmud Ahmadinejad ke periode kedua
jabatannya. Tokoh-tokoh oposisi Gerakan Hijau yang
memimpin protes, seperti Mir Hossein Mousavi dan
Mehdi Karroubi, bahkan sampai kini masih
mendekam dalam tahanan rumah. Kenapa Ali Khamenei kini seperti lebih arif dalam
merespons situasi? Selain kotak suara memang tidak berada di pihak
mereka, saya membaca sikap legawa—atau lebih
tepatnya terpaksa—Khamenei dan kubu konservatif
itu juga dipicu kian tegang dan menggelegaknya
situasi kawasan. Saat ini, seluruh rezim di kawasan
Timur Tengah sangat sensitif terhadap protes-protes sosial. Khamenei dan para penyokong status quo
Iran mungkin sadar betapa rentannya cara-cara
manipulatif dan represif dalam mengingkari aspirasi
demokratis warganya. Para mullah pun kini perlu lebih waspada akan
mendidihnya kemarahan rakyat sebagaimana di
Tunisia, Mesir, Libya, dan Suriah. Ini musim bulan
madu dan bermuka manisnya elite-elite non-
demokratis terhadap rakyatnya demi
mempertahankan eksistensi rezim mereka. Daripada memungkiri pilihan demokratis warga negara dan
menuai huru-hara, para mullah lebih senang melihat
rakyatnya sejenak berdansa (Dancing in the Streets,
Foreign Policy, 15 Juni 2013). Dilihat dari preferensi Khamenei dan kubu
konservatif, terpilihnya Rouhani yang menjanjikan
moderasi tak syak lagi juga merupakan malang yang
tak dapat ditolak. Namun di situ pun masih terselip
secercah berkah. Kepada dunia, para mullah bisa
berbangga sembari berdalih bahwa mereka adalah insan-insan demokratis yang mampu menghormati
kehendak bebas warganya. Namun, bagi rakyat Iran, hal ini bukanlah lelucon.
Pilihan mereka merupakan protes terhadap masa 8
tahun penuh konfrontasi dan dikungkung isolasi.
Berpesta dan berdansanya mereka atas
kemenangan Rouhani adalah hukuman terhadap
rezim lama dan luapan ekspektasi terhadap rezim baru. Dari sinilah tugas Rouhani tampak tidak mudah. Hasil konfrontasi Di era setali tiga uangnya Ahmadinejad dan
Khamenei, posisi dan pengaruh Iran memang
tampak kian penting di Timur Tengah. Sikap
konfrontatif Ahmadinejad terhadap Israel juga
tampak memantapkan posisi Iran di Jalur Gaza,
Palestina. Irak pasca-Saddam juga menjadi durian runtuh bagi pengaruh Iran terhadap jirannya. Di
Libanon, Hizbullah masih setia menjadi kepanjangan
tangan mereka. Pergolakan Bahrain pun ikut mendorong Iran untuk
berkonfrontasi dengan Saudi, yang menyokong
kerajaan Sunni di tengah mayoritas Syiah. Di Yaman
Selatan dan Timur Saudi, pengaruh Iran nyata. Dan
jangan lupakan kekacauan Suriah. Negeri itu kini
menjadi kancah pertarungan regional antara Iran dan sekutunya demi eksistensi rezim Assad,
melawan oposisi-jihadi yang dibeking Saudi, Qatar,
Turki, dan Amerika. Itulah yang kini dirasakan rakyat Iran. Pendekatan
konfrontatif melawan dunia dan salah urus negara
ala Ahmadinejad justru berbuah Iran sengsara.
Pertumbuhan ekonomi selalu negatif dan terus
mengalami resesi. Tingkat inflasi resmi mendekati
angka 30 persen. Inflasi uang terhadap harga pangan mencapai 60 persen, dan angka pengangguran
berada pada kisaran 12-20 persen. Sanksi
internasional atas ekspor minyak telah mengurangi
pendapatan Iran segawat 65 persen. Perdagangan
dengan dunia terhambat. Dan tahun lalu saja, mata
uang riyal mengalami devaluasi sekitar 80 persen (www.bbc.co.uk, 16 Juni 2013 dan Guardian, 14 Juni
2013). Keberlangsungan nezam Kondisi ini tak hanya menjadi tantangan bagi
Rouhani, tapi juga ancaman bagi keberlangsungan
nezam, sistem teokratik ala Iran. Sistem politik yang
melimpahkan Pemimpin Spiritual dan institusi
Velayat-e Faqih hak veto untuk hampir semua isu-isu
strategis ini kini sedang digugat. Fakta bahwa rakyat Iran memilih presiden yang menghendaki moderasi
dan menjanjikan lepasnya isolasi ibarat veto
terhadap status quo. Semua itu tanda-tanda zaman
yang layak dibaca dengan seksama. Sebagian pengamat Iran menilai, pemilu kali ini juga
memberi sinyal kuat akan kian lemahnya posisi
istimewa Khamenei sebagai pemimpin spiritual, dan
mungkin pula semakin pudarnya dominasi ulama di
medan perpolitikan Iran (Paola Rivetti, Foreign Policy,
17 Juni 2013). Itu terlihat dari merosotnya kiprah para ulama dalam sejarah pemilu legislatif Iran. Hasil
pemilu dari masa ke masa memperlihatkan,
dukungan pemilih Iran terhadap kaum ulama terus
menurun. Pada 1980-an, keterwakilan mullah di parlemen Iran
mencapai 50 persen. Pada 1990-an, kursi mereka
tinggal 25 persen dan kini terus menyusut ke angka
10 persen. Oleh para penelaah Iran, gejala ini
dinamai “kecenderungan deklerikalisasi” (de-
clericalization trend). Ini merupakan konsekuensi perubahan generasi dan semakin menyusutnya
kegairahan akan nostalgia zaman revolusi Islam era
Khomaini (Yasmin Alem, http://www.al-monitor.com 18 Juni 2013). Yang agak mengejutkan, kecenderungan
deklerikalisasi justru menguat sejak era
Ahmadinejad (Reza Aslan, Foreign Policy, 12 Juni
2013). Karena itu, meski pemilu kali ini tak sejalan
dengan harapan Khamenei dan Dewan Pengawal
Revolusi, mereka tetap berlagak lapang dada. Kelapangdadaan itu mungkin saja didorong oleh
pembacaan cermat terhadap tanda-tanda zaman,
atau mungkin juga sekadar memberi ilusi kepada
dunia bahwa rezim teokratik mereka tak goyah dan
masih mendapat dukungan rakyatnya. Akan lapang dada jugakah mereka dalam memberi
peluang kepada Rouhani untuk melakukan
reformasi? Ini masih tanda tanya. Yang pasti,
dualisme kekuasaan masih akan menghantui sistem
perpolitikan Iran. Sementara Rouhani mewakili
kehendak pemilih, Khamenei dan institusi Velayat-e Faqih masih akan berkukuh memegang kendali
dengan klaim “kewenangan Ilahi”. Inilah yang nanti akan menyulitkan Rouhani dalam
memerintah dan mengoreksi politik luar negeri
Teheran. Padahal isu nuklir sangat krusial dalam
langkah Iran mengurai isolasi. Iran pun punya peran
vital dalam mengakhiri gejolak Suriah. Jika dualisme
ini terus mengalami turbulensi, Rouhani boleh jadi akan mengulangi era Khatami (1997-2005): menjadi
presiden sekaligus oposisi. Ya, beroposisi terhadap
Ali Khamenei dan status quo.

* Novriantoni Kahar, dosen Paramadina,
pengamat Timur Tengah New! Download the Tempo.co for mobile app HOME