emha

“Sawang Sinawang” Politik (Emha Ainun
Nadjib (cak nun)) Hidup ini sawang sinawang. Juga kebudayaan. Dan politik. Pada sisi positif, sawang sinawang mengandaikan empati antar manusia pihak dalam pergaulan. yakni kesediaan dan kesanggupan untuk pada saat-saat tertentu mengidentifikasikan diri sebagai orang lain kepada siapa seseorang bergaul. Seorang suami dituntut untuk membayangkan seandainya ia adalah istrinya. Ini suatu metode penghayatan atas posisi mitra hidup. Suatu cara untuk saling bercermin. Sang suami. ikut “berada” dalam atau setidaknya rnerasakan posisi-posisi istrinya tatkala membuatkannya kopi, mengecupnya sebelum berangkat kerja, menelentang buat gairah suaminya. Demikian juga sebaliknya, sang istri berempati atas posisi suaminya. Itu semua merupakan metode untuk “menjadi satu”, sebab suami dan istri adalah “satu pihak”, meskipun dalam sejumlah urusan ada “pihak suami” dan ada “pihak istri”. Keseimbangan pergaulan, keadilan hak dan keselarasan hati serta demokrasi menejemen persuami istrian, ditentukan oleh seberapa jauh keduanya bersedia dan mampu saling berempati. Demikian juga pergaulan antara sahabat dalam pergaulan, antara pihak-pihak dalam kehidupan bermasyarakat, antar kelompok dalam konstelasi politik atau antar apa pun dalam peta-peta perhubungan tidak menkonsentrasikan nilainya pada hak subjektif untuk berkehendak orang lain di
dalam “dada” kita. Begitulah pula seharusnya demokrasi kebudayaan yang berlangsung umpananya, antara pemerintah dengan rakyatnya atau sebaliknya. Pada sisi lain yang negatif, sawang sinawang bisa berarti. subjektivisme, egosentrisme atau kesepihakan. Seseorang hanya menerima orang lain sejauh hasil sawang-nya sendiri. Seseorang tidak diterima sebagai dirinya sendiri, melainkan dilihat berdasarkan, batas penglihatan dan penilaian orang yang memandangnya. Tahap berikutnya, apa yang berlaku pada orang yang di-sawang, segala sepak terjangnya, harus sesuai dengan cara pandang dan kehendak orang yang memandangnya. Dalam perikehidupan politik, mekanisme sawang sinawang dalam konotasi yang ini, akan kreatif pada penyangga kedaulatan manusia adalah bagaimana menemukan metode-rnetode agar ada sebanyak mungkin orang merniliki kesanggupan untuk mengambil jarak dari segala sesuatu yang menindih dan menenggelarnkannya. Pengambilan jarak itu penting, terutama bagi masyarakat yang berada dalam keadaan mendem atau tenggelam dalam sesuatu yang mereka tak bisa menilainya. Pengambilan jarak dengan demikian bisa berarti alienasi, pergeseran untuk mengasingkan diri, dan mungkin pada saat-saat tertentu dianggap gila atau naif. Tapi memang hanya orang yang berani gila dan naif saja yang punya peluang untuk menilai zaman ini dan mernperbaikinya. Di tahun 1981 saya pernah menyaksikan 18 orang yang “gila dan naif”. Mereka adalah penduduk asli Kepulauan Hawai, yang siang itu melakukan unjuk rasa di depan kantor gubernuran propinsi paling barat Amerika Serikat itu. Kenapa gila dan naif? karena rnereka menuntut hak atas tanah nenek mereka. Amerika Serikat yang merasa diri sebagai masyarakat dan pemerintah paling demokratis di muka bumi, ditampar mukanya, tapi mereka bisa dengan mudah menemukan seribu alasan untuk menafikan demonstrasi itu. Apakah demi demokrasi dan hak-hak asasi manusia lantas seluruh penduduk Arnerika di Hawai disuruh pergi dari Oahu, meninggalkan gedung-gedung tinggi, industri pariwisata, serta segala bleger kemajuan pembangunan bisa melahirkan wajah sejarah yang
membahayakan kemanusiaan. Suatu kekuasaan yang menganggap bahwa cara memandangnya adalah berlaku absolut, maka segala yang berlangsung pada kehidupan rakyatnya harus subordinatif atau menyesuaikan, tidak diperkenankan untuk menjadi dirinya sendiri, dengan cara pandang sendiri serta dengan aspirasi dan kehendaknya sendiri. Sebab cara mereka berpikir, cara mereka memandang dan meniiai sesuatu, harus yang demikian akan melahirkan proses sentralisasi dan uniformisasi-pemusatan dan penyeragaman – yang bukan hanya berlangsung pada way of approach terhadap permasalahan-permasalahan, tapi bahwa juga tercermin pada penyeragaman dan penunggalan yang fisik di bidang-bidang ekonomi, birokrasi pola budaya, atau bahkan mode dan selera. Ekspresi kedaulatan rakyat mungkin hanya tersisa ada bunyi ngorok waktu tidur, cara buang air besar, serta metode pemistikan angka-angka. Yang dimaksud sentral kekuasaan tidak harus pada konteks politik praktis, namun bisa juga pada pola-pola budaya konsumtifisme. Masyarakat tidak perlu kreatif berpikir, sebab untuk menyedapkan sayuran sudah ada moto, untuk menentukan potongan rambut sudah ada disainer-disainer rambut, untuk memiliih lagu sudah ada Aneka Ria Safari, untuk memilih baju tinggal ke Toserba. Kekuasaan atas masyarakat berlaku di hampir semua bidang. Sehingga yang terus menerus menjadi tema mereka? Tidak sebuah teori dan kearifan empirik pun akan pernah bisa menjawab ironi semacam itu. Sejumlah kecil masyarakat Indian penduduk asli Amerika yang kini diasramakan di Sheatle adalah untuk meminjam istilah Rendra — “bau busuk yang mengganggu orang tidur” orang-orang Amerika pendatang. Tetapi mereka tak pernah terganggu tidurnya. Mereka tenang dengan “dosa warisan” yang dahsyat itu dan tetap mengumumkan diri sebagai pemimpin demokrasi di muka bumi. Mau tidak mau mereka harus memakai konotasi negatif dari sawang sinawang-nya, demi memelihara kemampuan sejarah gemerlap yang telah berhasil mereka bangun. Sedikit demi sedikit muncul juga kesadaran masyarakat Amerika segera setelah mereka berbuat dosa sangat besar dengan memusnahkan bangsa asli dari tanah yang kini mereka huni. Christopher Columbus sudah mulai banyak digugat dan tidak lagi terlalu mantap dikukuhkan sebagai “Bapak Penemu Amerika”. Budaya rasisme yang mendiskriditkan posisi kernanusiaan kelompok kulit hitam sudah makin terkikis beberapa puluh tahun terakhir. Anda mengerti bahwa arus balik kesadaran itu memang sungguh-sungguh berlangsung. Bahkan kenapa film macam itu dimenangkan, sesungguhnya mencerminkan pergeseran konotasi sawang sinawang politik: bahwa masyarakat Amerika, atas desakan demokratisasi internasional maupun atas sumber nurani mereka sendiri, telah semakin menyelenggarakan “upacara pengakuan dosa”. Namun dasar Amerika, pahlawan kemanusiaan dalam film itu tetap juga Amerika pendatang, bukan manusia Tapi tak apa. Peradaban memang watak evolusioner. Anda mungkin juga mengerti persis riwayat Kaum Murus di “Filiphina Selatan” –nanti Anda tahu kenapa saya pakai tanda petik. “Murus” adalah sebutan untuk “bandit” atau “bajingan” atau “pengacau keamanan”. Kaum muslim di utara Sulawesi itu bagi kolonial Spanyol selalu disebut “murus”, sedemikian rupa hingga “dengan bangga” mereka memakai nama itu. Sekarang kita mengenal mereka sebagai Bangsa Moro. Pemerintah Filiphina sampai hari ini pun, meskipun masih cukup moderat, tetap secara politis menganggap mereka “murus”. Sementara Bangsa Moro sendiri hanya memakai logika sederhana: “Kami tidakpaham kenapa kami dianggap sebagai pemberontak terhadap Manila, dianggap sebagai separatis yang ingin menyempal,
padahal dalam sejarah tak pernah kami menjadi bagian dari negara yang bernama Filiphina. Filiphina itu lahir sebagai modus negara sesudah berlangsung penjajahan Spanyol dan Amerika Serikat. Kami tidak tahu menahu itu….” Bangsa Moro memakai konotasi positif dari sawang sinawang, sementara mereka harus menghadapi klaim establisment modern yang memakai sawang sinawang dalam konotasi negatif. Sejarah kita sendiri menyodorkan PR yang barangkali harus kita lacak di antara dua kutup konotasi itu, baik yang terjadi di zaman Majapahit maupun yang sedang berlangsung hari-hari ini. Kita bebas menentukan sikap, namun objektivitas dan keadilan sejarah juga merdeka untuk melihat siapa yang adil dan objektif dan siapa yang tidak adil dan subjektif dalarn bersawang sinawang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s