inilah ucapan kaum fasik liberal

Inilah Ucapan Kaum Fasik Liberal: “Islam dan
Tuhan Tak Perlu Dibela” JAKARTA (VoA-Islam) – Kaum fasik liberal belakangan ini kembali mengusung kembali
pernyataan mendiang Abdurrahman Wahid alias Gus
Dur yang ditulis dalam sebuah artikel yang diterbitkan
Majalah Tempo (bisa dibaca di wahidinstitute.org), 28
Juni 1982. Artikel itu berjudul “Tuhan Tidak Perlu
Dibela”. Di majalah tersebut, (alm) Gusdur menulis uraiannya
tentang ketidakperluan kita membela Tuhan. Dengan
gamblang ia menulis: “Allah itu Maha Besar. Ia tidak
perlu memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya.
Ia Maha Besar karena Ia ada. Apa yang diperbuat
orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-
Nya.” Lebih lanjut, Gus Dur menulis: “…Juga tidak perlu
dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang
ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas
hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang
diakibatkannya.” Dalam hal ini Gus Dur mengutip Al-
Hujwiri, seorang sufi dari Persia. Lalu Gus Dur menyimpulkan bahwa, “Benar Islam
perlu dikembangkan, tapi tidak untuk dihadapkan
kepada serangan orang. Kebenaran Allah tidak akan
berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan
orang. Maka ia pun tenteram. Tidak lagi merasa
bersalah berdiam diri. Tuhan tidak perlu dibela, walaupun juga tidak menolak dibela. Berarti atau
tidaknya pembelaan, akan kita lihat dalam
perkembangan di masa depan. Ungkapan Gus Dur tersebut pun dijadikan
pembenaran, bukan hanya oleh kaum liberal, tapi
juga sejumlah tokoh yang mengklaim dirinya sebagai
tokoh Islam. Bukan sesekali, beberapa diskusi publik
dan dialog pun digelar dengan tagline “Allah dan
Islam Tak Perlu Dibela”. Sejumlah tokoh lintas agama dan budayawan pun diundang sebagai narasumber
untu menyampaikan pandangannya. Inspirasi Kaum Fasik Voa-Islam juga mencatat pernyataan budayawan
Emha Ainun Najib alias Cak Nun yang nampaknya
terinspirasi dari statemen Gus Dur. Islam
sesungguhnya hadir justru untuk melindungi Islam,
bukan sebaliknya. “Islam itu baik sekali, sangat
besar, dan sangat indah. Kenapa dibela? Islam hadir membela manusia, bukan sebaliknya. Saya ini bau,
hatinya kotor apa pantas bela Islam?” ungkapnya. Cak Nun berpendapat bahwa orang-orang yang
mengatasnamakan diri untuk membela Islam justru
terkesan merasa lebih hebat, bahkan lebih mulia
daripada Islam. “Islam itu sangat mulia. Kalau kita
bela, kesannya kita itu lebih hebat, lebih mulia
daripada Islam,” ujar budayawan asal Jombang ini. Tokoh liberal yang berpandangan sama dengan Gus
Dur adalah Saidiman Ahmad (Tokoh JIL). Ia
mengatakan dalam sebuah artikelnya, Umat Islam tak
perlu dibela. Yang mesti diperjuangkan adalah
tegaknya nilai-nilai persaudaraan, toleransi, dan
kebebasan. “Ketika sejumlah tokoh Muslim melakukan pembelaan terhadap jemaat HKBP atau
Ahmadiyah yang didiskriminasi, tantangan pertama
yang mereka terima adalah dituding tidak pro
terhadap Islam.” Di sebuah situs Kompasiana, seseorang
menulis:”…Maka sayapun tertunduk malu, menyesal,
dan mohon ampunan-Nya karena saya begitu lancang
mengatakan, “Sayalah pembela Allah! Sayalah
pembela Islam!”.Bukan! Sayalah yang selama ini
justru begitu manja menikmati pembelaan Allah.” Ia juga menulis, ketika kita berbicara tentang Tuhan
yang tidak perlu dibela, maka kita yakin betul bahwa
Allah adalah mahabesar, mahakuat, mahaperkasa.
Dengan kemahaan-Nya, maka Dia tak butuh apapun.
Dengan kemungkaran seluruh manusia di muka bumi,
tak akan sedikit pun mengurangi kemuliaan-Nya. Diam dalam Kemungkaran Menyimak apa yang dinyatakan oleh lisan maupun
tulisan kaum liberal tersebut, mengisyaratkan, bahwa
ketika kemungkaran, kemaksiatan, kezaliman,
kesewenang-wenangan, dan kebobrokan ada di
depan mata, umat ini diminta untuk bersikap manis,
diam terpaku, tanpa ada reaksi sedikitpun. Sebagai contoh, ketika ada yang melecehkan Allah
dengan ucapan “anjinghu akbar” dalam sebuah
forum di Bandung, kaum liberal meminta umat Islam
untuk terdiam. Tatkala ada yang menghina nabi
Muhammad Saw, cukup tenang-tenang saja. Atau bila
ada yang bilang, ada nabi setelah Nabi Muhammad saw, cukup dihormati saja pendapat itu karena hanya
beda tafsir dalam memandang suatu dalil. Lebih dari itu, jika ada mushaf Al Qur’an yang
dibakar, umat ini juga diminta untuk tidak bereaksi.
Atau disaat kaum muslimin dibelahan dunia dizalimi,
dibunuh, dibantai dengan keji, kita dituntut cukup
berpangku tangan saja, sekalipun kaum liberal kerap
berteriak soal Hak Asasi Manusia (HAM) dan perdamaian. Bahkan, disaat generasi muda terlibat
pergaulan seks bebas, menenggak miras, hingga
dipengaruhi narkoba, lagi-lagi kita diminta untuk
terdiam. Naudzubillah! Setelah Islam, Allah dan Rasul-Nya dilecehkan, kaum
muslimin dibantai, pemikiran batil dilontarkan, kaum
liberal mendesak umat ini agar tidak memberikan
stigma sesat. Jika tidak berubah, biarkan Allah saja
yang memberikan hidayah. Kaum liberal itu berdalih
dengan menggunakan dalil QS. Al-Maidah ayat 105. Dengan ayat itu, maka kalau ada aliran-aliran yang
dianggap sesat oleh umat Islam, ya biarkan saja,
cukup didakwahi, karena Allah sudah menjamin,
bahwa orang yang beriman itu tidak akan pernah
terjerumus dalam kesesatan karena dijaga Allah. Ini
menjadi dalil implisit bahwa Allah tidak perlu dijaga, karena Allah lah yang menjaga manusia dari setiap
kesesatan. Begitulah kebusukan pemikiran kaum fasik liberal
yang begitu bodoh memahami ayat yang sebetulnya
begitu jelas dan gamblang untuk dipahami. “Mereka
menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal
mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka
sadari. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu, dan mereka mendapat
azab yang pedih, karena mereka berdusta. (QS.Al
Baqarah: 9-10). Allah berfirman: ”Ingatlah, sesungguhnya
merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka
tidak menyadari. (QS. Al-Baqarah: 12). Mereka menyembunyikan hadits Nabi Muhammad
Saw yang menyatakan: “Perumpamaan mukmin
dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang
adalah ibarat satu tubuh, apabila satu organya
merasa sakit, seluruh tubuh akan sulit tidur dan
merasakan demam.” (HR. Muslim). Juga ingatlah dengan sabda Rasulullah Saw:
“Sesungguhnya aku telah mendapat berbagai teror
dan ancaman karena membela agama Allah. Dan tidak ada seorang pun yang mendapat teror seperti
itu. Aku telah mendapat berbagai macam gangguan
karena menegakkan agama Allah. Dan tidak ada seorang yang mendapat gangguan seperti itu.
Sehingga pernah kualami selama 30 hari 30 malam,
aku dan Bilal tidak mempunyai sepotong makanan
yang layak dimakan, kecuali sedikit makanan yang
hanya dapat dipergunakan untuk menutupi ketiak
Bilal.” (HR. Turmudzi dan Ahmad) Patut digarisbawahi kalimat membela agama Allah
dan menegakkan agama Allah. Jika Rasulullah
melakukan hal itu dengan segala pengorbanannya,
maka begitu naïfnya ketika kaum fasik liberal dengan
bangganya melontarkan ungkapan batilnya, bahwa
“agama Allah tak perlu dibela”, “Tuhan tak perlu dibela”, dan seterusnya. Ucapan seperti itu
menunjukkan, mereka adalah kaum yang bodoh dan
tak berakal.

Iklan

kaca wirangi

Kaca Wirangi – bagian 3. Lalu berlian yg sedari tadi mendengarkan ucapan kupu dan batu permata berkata. “Nah , sekarang kalian semua sudah mengerti ,
kalau bersinarnya wujud adalah karena daya cahaya ,
artinya warna merah , hijau , ungu dan sebagainya ,
bila tidak memiliki cahaya akan nampak kusam.
Walau tanpa warna bila memiliki cahaya tidak akan terlewatkan oleh pandangan mata,
karena cahaya yg memancar itu mampu menyilaukan
mata.
Terbukti bahwa cahaya adalah nyawa bagi warna.
Seperti halnya Manikmaya , meski hanya berwarna putih namun karena bercahaya ,
jadi lebih berharga. Demikian pula dengan Geni Yara dan lainnya.” Sekarang aku akan bertanya :
“Manakah yg akan kalian pilih ,
memiliki warna dengan cahaya yg biasa-biasa saja ,
atau tidak memiliki warna hanya cahaya saja ,
tapi cahayanya memancar melebihi semua yg berwarna ?” Berlian kemudian melanjutkan karena semua masih belum memahami. “Aku lebih memilih tidak memiliki warna tapi memiliki cahaya yg utama.
Aku tidak terlalu mementingan warna , yg kugapai adalah cahaya.
Sebab walaupun tidak memiliki warna tapi bila dianugrahi cahaya utama ,
bisa menampakkan/memancarkan aneka warna karena beningnya cahaya itu.” “Lihatlah aku , aku tidak tidak memiliki warna , tidak putih , tidak merah ,
tidak ungu , tidak hijau , tidak kuning , tidak biru , tidak pula hitam.
Namun karena warnaku melebihi warna batu permata ,
meski tanpa warna ,
saat aku memancarkan warna merah tidak kalah dengan Geni Yara ,
ketika memancarkan warna biru tidak kalah dengan Nila Pakaja , dan seterusnya.
Seakan-akan aku memuat semua warna yang ada pada batu permata ,
karena aku tidak memiliki warna tapi memiliki cahaya utama” “Seandainya aku memiliki cahaya utama tapi masih memiliki warna ,
tidaklah mungkin bisa memancarkan aneka warna.
Meski tanpa warna namun bila cahayaku tidak utama ,
aku juga tidaklah mampu memancarkan aneka warna.
Jadi yg terbaik adalah ,
‘Tidak memiliki warna , tapi memiliki cahaya utama'”. ———————————————————————————————————————- Cahaya adalah ibarat budi.
Warna adalah ibarat watak atau sifat (rahsa).
Berlian adalah penggambaran dari :
budi yg lebih bersinar -daripada permata- tapi tidak menonjolkan ke’aku’annya , bisa menundukkan kemauannya , tidak pilih kasih ataupun berat sebelah. Seorang manusia dalam upaya menggapai keluhuran (keutamaan) , belum cukup meski sudah -merasa- bisa melepaskan diri dari nafsu keduniawian
(kesenangan raga , kekayaan , kedudukan , dll) ,
berbuat kebaikan (sebagai perwujudan budi luhur) ,
senantiasa “eling” pada Yang Maha Kuasa ,
namun juga musti bisa “tidak memiliki watak”. Maksud dari “tidak memiliki watak” adalah , bisa menerima dan menampung (momot) berbagai keadaan dan kondisi ,
bahkan yg bertolak belakang dengan apa yg disukai dan diyakini. Pada kebanyakan orang , menyukai ‘ini’ dengan membenci ‘itu’ , Suka ria ketika dalam keadaan senang , namun berkeluh-kesah ketika susah ,
hanya menyukai kebaikan namun sangat membenci kejelekan , menerima yg benar namun menolak (tidak menerima keberadaan) yg salah , (menganggap bahwa apa yg diyakininya benar adalah paling benar , yg tidak sama dengan keyakinannya harus disingkirkan , dimusnahkan). S.O.T.R , Maret ’08 =========================================================== Kaca Wirangi – bagian 4. Semua batu permata merasa kalah , dibandingkan dengan berlian , lebih-lebih kupu-kupu.
Kemudian sepakat untuk mengangkat berlian menjadi
raja ,
sebab berlian memiliki wujud yg paling unggul diantara mereka. Berlian yg hendak diangkat menjadi raja , lalu berkata. “Kalian semua hendak mengangkat aku menjadi raja ,
karena aku memiliki cahaya yg paling utama dan tanpa warna.
Keutamaan cahayaku membuat wujudku gemerlap.
Ketiadaan warna yg menyebabkan mampu menampung banyak warna.
Semua dasar (alasan) itu benar , namun sebenarnya aku ini belum sempurna ,
masih ada wujud lain yg memiliki cahaya melebihi aku ,
mampu menampung (memuat) warna lebih sempurna dari pada aku.
Bukan hanya itu , ia mampu menampung warna dan juga wujud (bentuk).
Contohnya , ia tidak hanya bisa hijau , merah ,
tapi juga bisa berwujud seperti batu , seperti kupu ,
seperti permata , berlian , seperti matahari , seperti orang ,
pendek kata , bisa seperti bentuk-bentuk yg ada di jagad raya ini.
Apakah kalian tahu nama wewujudan yg seperti itu ?” Kupu-kupu dan semua permata hanya terdiam. “Yaitulah yg disebut : Kaca Benggala Ageng (Kaca Cermin besar).” Kupu-kupu dan semua permata keheranan
dan ingin mengetahui seperti apakah wujud kaca benggala. Ada batu yg ingin bisa menggambarkan wujud dari kaca benggala ,
lalu bertanya kepada berlian. “Wujud kaca benggala itu seperti apa ?
Apakah memang seperti wujud suatu benda atau berbeda (tak memiliki bentuk) ?
Apa bisa disebut bening seperti air ?” Berlian lalu menjawab. “Kalau dikatakan seperti bentuk (wujud) sebuah benda ,
memang benar , namun tidak benar-benar tepat.
Karena kaca benggala memang bisa seperti wujud batu ,
seperti kupu-kupu , seperti permata , seperti berlian dan seterusnya.
Maksud dari kalimat ‘tidak benar-benar tepat’ , begini :
batu itu kusam , tapi kaca benggala tidak kusam.
Batu keras menggumpal dan jelek ,
tapi kaca benggala tidak bisa dikatakan keras menggumpal dan jelek.
Arang hitam , tapi kaca benggala tidak hitam.
Mirah dalima kuning dan kecil , tapi kaca benggala tidak kuning dan kecil.
Pendek kata , semua berbeda dengan kaca benggala ,
tapi seperti tadi kukatakan : seperti bentuk benda.
Kalaupun dikatakan : bening , itu benar , tapi juga masih kurang tepat benar.
Sebab makna bening itu seperti air yg berada di dalam gelas.
Air memang bening , tapi bening yg hampa (suwung) ,
berbeda dengan beningnya kaca benggala : bening yg menguasai wujud ,
sebab cahayanya menjadi satu dengan rasa ,
ya rasa itulah yg tanpa warna , tapi tidak hampa.
Si cahaya menjadi cahayanya rasa , si rasa menjadi tempat (wadhah) dari cahaya.” “Maka disebut tidak mempunyai warna tidak mempunyai wujud ,
sebab andaikan dicari warna wujudnya , tidak akan ketemu.” “Keadaan seperti itu dapat dikatakan : ada di dalam hampa (suwung amengku ana).
Atau , tidak baik tidak jelek , tapi memuat baik dan jelek.
Entahlah , apa nama bentuk wujud yg seperti itu . . .
Sebaiknya mari kita sama-sama menyatakannya.” Batu , para kupu dan permata , kemudian bersama- sama menuju ke tempat kaca benggala. Batu menghadap yg pertama kali , lalu berkata. “Sang Kaca Benggala , saya menghadap hendak menghambakan diri kepada tuan ,
sebab konon tuan memiliki wujud yg paling utama sejagad.
Namun ijinkanlah saya terlebih dahulu melihat wujud tuan.” Kaca benggala menjawab. “Iya , lebih baik mendekatlah kemari untuk melihat wujudku ,
wujudku sama dengan wujudmu.” Saat Batu berada di depan kaca benggala ,
amat heranlah melihat bahwa kaca benggala memang sama persis dengan batu.
Batu kemudian mohon pamit mundur. Demikian juga arang , kupu-kupu dan batu permata ,
mereka heran bahwa kaca benggala ternyata hanyalah sama dengan mereka. Mereka semua lalu kembali ke tempat keberadaan mereka semula. Kupu-kupu lalu membicarakan kejadian tadi. “Kabarnya kaca benggala itu utama dalam wujud , ternyata hanya sama dengan kupu ,
tidak mempunyai cahaya seperti batu permata , masih lebih bagus permata.
Apalagi kalau diperbandingkan dengan berlian , jauh lebih bagus berlian ,
sebab kaca benggala tidak punya cahaya , tidak berkelip-kelip.” Batu dan arang menyahut. “Kaca benggala wujudnya kusam dan hitam seperti wujudku.
Karena wujudku jelek , kaca benggala persis seperti aku ,
maka kaca benggala ya jelek dan hitam.” Berlian lalu menjelaskan pada kupu , arang , batu dan permata. “Ketahuilah oleh kalian semua ,
kaca benggala itu meskipun utama (unggul) dalam wujud ,
tidak mau memamerkan wujudnya , tidak mau membandingkan dirinya dengan yg lain ,
seperti kupu yg saling menggunggulkan ,
lalu mencari berbagai alasan untuk membenarkan pendapatnya , memuji diri sendiri.
Sudah menjadi hal yg wajar , yg belum sempurna mencari perbandingan diri ,
namun tidak demikian dengan yg sudah sempurna.” “Kupu putih memamerkan warna putihnya , kupu merah menceritakan indah merahnya ,
permata memamerkan cahayanya , berlian (aku) memamerkan kerlip cahaya ,
bahkan batu juga pamer , yaitu memamerkan kejelekannya.
Baik ataupun jelek , kalau ditunjuk-tunjukkan , iya tetep saja namanya : pamer.” “Itu semua sebab belum sempurna.
Kebanyakan tidak mau disebut jelek , minta disebut baik , berharap dipuji.
Tapi kaca benggala tidak minta disebut baik ,
juga tidak mempunyai niatan supaya disebut jelek seperti batu dan arang.
Kaca benggala menerima disebut seperti yg menyebut.
Menerima disebut jelek seperti batu dan arang ,
tapi disebut berkelip-kelip seperti berlian juga tidak menolak.
Namun jangan salah menyangka ,
menerima disebut jelek bukan karena mengharapkan atau meminta ,
serta menerima disebut baik bukan karena memamerkan diri atau suka dipuji.
Jadi mau menerima-nya adalah karena kebesaran hati (legawa)
dan memuat (menerima keberadaan) sebanyaknya wujud.” “Nah , sekarang batu dan arang bisa mengetahui ,
kalau kusam yg ada di kaca benggala itu bukan karena kusamnya kaca benggala ,
sebenarnya karena sedemikian beningnya.
Kelihatan hitam juga bukan karena hitamnya kaca benggala ,
malah karena bening yg tak terkira , sampai batu dan arang tidak mengira.
Coba pikirlah , seandainya kaca benggala itu hanya kusam dan hitam saja ,
bagaimana bisa menampakkan wujud.” Setelah mendengar penjelasan berlian , kupu , batu dan arang merasa ,
kemudian percaya bahwa kusam yg nampak di kaca benggala ,
itu adalah kusamnya sendiri , bukan kusamnya kaca benggala.
Sebab kaca benggala juga bisa berkerlap-kerlip seperti berlian ,
bisa bercahaya hijau seperti permata Tinjo Maya. ———————————————————————————————————————- Keberadaan kaca benggala itu ibarat watak (pribadi) manusia yg sudah sempurna , yaitu manusia yang sudah tidak lagi memikirkan , mementingkan wujud lahiriah.
Manusia seperti itu : lupa terhadap diri , artinya , sudah tidak punya niat menunjukkan keberadaan dirinya ,
ataupun membandingkan kebesaran diri. Tidak lagi merasa sombong , senang , iri , susah , dan berbagai sifat lain. Sebab hawa nafsunya sudah padam dan budinya sudah bercahaya terang ,
ke-ada-an dirinya sudah tidak lagi dirasakan , membuat bisa memuat (mewadhahi) berbagai watak.
Tujuan akhir hidupnya hanyalah untuk keselamatan yg lain ,
(mamayu hayuning bawana) serta berupaya untuk membuat senang perasaan sesama
(karyenak tyasing sasami). Orang yg seperti itu dengan senang hati disebut rendah (buruk) ,
meski demikian juga tidak menolak disebut luhur , serta kerelaan dan senang hatinya tidaklah dipamerkan. Hatinya tidak mempunyai rasa suka terhadap sesuatu , yg membuat tidak lagi memihak pada salah satu dari yg lain. Tidak menyukai yg baik dan benar dengan membenci yg jelek dan salah. Tidak pula menyukai yg jelek dan salah dengan membenci yg baik dan benar. Meskipun manusia utama (pinunjul) , bila masih suka membandingkan diri , atau mempunyai rasa suka dalam hati serta mempunyai rasa benci , belumlah sempurna. Cahayanya masih dipengaruhi (diarahkan) oleh hawa nafsunya ,
masih tunduk pada sifat angkaranya. Ada sebagian orang yg tidak minta disebut baik , tapi minta disebut jelek , yg seperti itu juga masih tergolong orang yg menunjukkan kebaikan sifatnya ,
jadi masih mengutamakan diri. Sebab bila disebut baik , pasti akan tidak senang hatinya. Ada pula manusia yg menerima disebut seperti yg menyebut ,
disebut baik ataupun jelek. Namun menerimanya ditunjuk-tunjukkan , dipamerkan. Yg seperti itu juga belumlah bersih , masih mempunyai harap yg bersifat pujian.

emha

“Sawang Sinawang” Politik (Emha Ainun
Nadjib (cak nun)) Hidup ini sawang sinawang. Juga kebudayaan. Dan politik. Pada sisi positif, sawang sinawang mengandaikan empati antar manusia pihak dalam pergaulan. yakni kesediaan dan kesanggupan untuk pada saat-saat tertentu mengidentifikasikan diri sebagai orang lain kepada siapa seseorang bergaul. Seorang suami dituntut untuk membayangkan seandainya ia adalah istrinya. Ini suatu metode penghayatan atas posisi mitra hidup. Suatu cara untuk saling bercermin. Sang suami. ikut “berada” dalam atau setidaknya rnerasakan posisi-posisi istrinya tatkala membuatkannya kopi, mengecupnya sebelum berangkat kerja, menelentang buat gairah suaminya. Demikian juga sebaliknya, sang istri berempati atas posisi suaminya. Itu semua merupakan metode untuk “menjadi satu”, sebab suami dan istri adalah “satu pihak”, meskipun dalam sejumlah urusan ada “pihak suami” dan ada “pihak istri”. Keseimbangan pergaulan, keadilan hak dan keselarasan hati serta demokrasi menejemen persuami istrian, ditentukan oleh seberapa jauh keduanya bersedia dan mampu saling berempati. Demikian juga pergaulan antara sahabat dalam pergaulan, antara pihak-pihak dalam kehidupan bermasyarakat, antar kelompok dalam konstelasi politik atau antar apa pun dalam peta-peta perhubungan tidak menkonsentrasikan nilainya pada hak subjektif untuk berkehendak orang lain di
dalam “dada” kita. Begitulah pula seharusnya demokrasi kebudayaan yang berlangsung umpananya, antara pemerintah dengan rakyatnya atau sebaliknya. Pada sisi lain yang negatif, sawang sinawang bisa berarti. subjektivisme, egosentrisme atau kesepihakan. Seseorang hanya menerima orang lain sejauh hasil sawang-nya sendiri. Seseorang tidak diterima sebagai dirinya sendiri, melainkan dilihat berdasarkan, batas penglihatan dan penilaian orang yang memandangnya. Tahap berikutnya, apa yang berlaku pada orang yang di-sawang, segala sepak terjangnya, harus sesuai dengan cara pandang dan kehendak orang yang memandangnya. Dalam perikehidupan politik, mekanisme sawang sinawang dalam konotasi yang ini, akan kreatif pada penyangga kedaulatan manusia adalah bagaimana menemukan metode-rnetode agar ada sebanyak mungkin orang merniliki kesanggupan untuk mengambil jarak dari segala sesuatu yang menindih dan menenggelarnkannya. Pengambilan jarak itu penting, terutama bagi masyarakat yang berada dalam keadaan mendem atau tenggelam dalam sesuatu yang mereka tak bisa menilainya. Pengambilan jarak dengan demikian bisa berarti alienasi, pergeseran untuk mengasingkan diri, dan mungkin pada saat-saat tertentu dianggap gila atau naif. Tapi memang hanya orang yang berani gila dan naif saja yang punya peluang untuk menilai zaman ini dan mernperbaikinya. Di tahun 1981 saya pernah menyaksikan 18 orang yang “gila dan naif”. Mereka adalah penduduk asli Kepulauan Hawai, yang siang itu melakukan unjuk rasa di depan kantor gubernuran propinsi paling barat Amerika Serikat itu. Kenapa gila dan naif? karena rnereka menuntut hak atas tanah nenek mereka. Amerika Serikat yang merasa diri sebagai masyarakat dan pemerintah paling demokratis di muka bumi, ditampar mukanya, tapi mereka bisa dengan mudah menemukan seribu alasan untuk menafikan demonstrasi itu. Apakah demi demokrasi dan hak-hak asasi manusia lantas seluruh penduduk Arnerika di Hawai disuruh pergi dari Oahu, meninggalkan gedung-gedung tinggi, industri pariwisata, serta segala bleger kemajuan pembangunan bisa melahirkan wajah sejarah yang
membahayakan kemanusiaan. Suatu kekuasaan yang menganggap bahwa cara memandangnya adalah berlaku absolut, maka segala yang berlangsung pada kehidupan rakyatnya harus subordinatif atau menyesuaikan, tidak diperkenankan untuk menjadi dirinya sendiri, dengan cara pandang sendiri serta dengan aspirasi dan kehendaknya sendiri. Sebab cara mereka berpikir, cara mereka memandang dan meniiai sesuatu, harus yang demikian akan melahirkan proses sentralisasi dan uniformisasi-pemusatan dan penyeragaman – yang bukan hanya berlangsung pada way of approach terhadap permasalahan-permasalahan, tapi bahwa juga tercermin pada penyeragaman dan penunggalan yang fisik di bidang-bidang ekonomi, birokrasi pola budaya, atau bahkan mode dan selera. Ekspresi kedaulatan rakyat mungkin hanya tersisa ada bunyi ngorok waktu tidur, cara buang air besar, serta metode pemistikan angka-angka. Yang dimaksud sentral kekuasaan tidak harus pada konteks politik praktis, namun bisa juga pada pola-pola budaya konsumtifisme. Masyarakat tidak perlu kreatif berpikir, sebab untuk menyedapkan sayuran sudah ada moto, untuk menentukan potongan rambut sudah ada disainer-disainer rambut, untuk memiliih lagu sudah ada Aneka Ria Safari, untuk memilih baju tinggal ke Toserba. Kekuasaan atas masyarakat berlaku di hampir semua bidang. Sehingga yang terus menerus menjadi tema mereka? Tidak sebuah teori dan kearifan empirik pun akan pernah bisa menjawab ironi semacam itu. Sejumlah kecil masyarakat Indian penduduk asli Amerika yang kini diasramakan di Sheatle adalah untuk meminjam istilah Rendra — “bau busuk yang mengganggu orang tidur” orang-orang Amerika pendatang. Tetapi mereka tak pernah terganggu tidurnya. Mereka tenang dengan “dosa warisan” yang dahsyat itu dan tetap mengumumkan diri sebagai pemimpin demokrasi di muka bumi. Mau tidak mau mereka harus memakai konotasi negatif dari sawang sinawang-nya, demi memelihara kemampuan sejarah gemerlap yang telah berhasil mereka bangun. Sedikit demi sedikit muncul juga kesadaran masyarakat Amerika segera setelah mereka berbuat dosa sangat besar dengan memusnahkan bangsa asli dari tanah yang kini mereka huni. Christopher Columbus sudah mulai banyak digugat dan tidak lagi terlalu mantap dikukuhkan sebagai “Bapak Penemu Amerika”. Budaya rasisme yang mendiskriditkan posisi kernanusiaan kelompok kulit hitam sudah makin terkikis beberapa puluh tahun terakhir. Anda mengerti bahwa arus balik kesadaran itu memang sungguh-sungguh berlangsung. Bahkan kenapa film macam itu dimenangkan, sesungguhnya mencerminkan pergeseran konotasi sawang sinawang politik: bahwa masyarakat Amerika, atas desakan demokratisasi internasional maupun atas sumber nurani mereka sendiri, telah semakin menyelenggarakan “upacara pengakuan dosa”. Namun dasar Amerika, pahlawan kemanusiaan dalam film itu tetap juga Amerika pendatang, bukan manusia Tapi tak apa. Peradaban memang watak evolusioner. Anda mungkin juga mengerti persis riwayat Kaum Murus di “Filiphina Selatan” –nanti Anda tahu kenapa saya pakai tanda petik. “Murus” adalah sebutan untuk “bandit” atau “bajingan” atau “pengacau keamanan”. Kaum muslim di utara Sulawesi itu bagi kolonial Spanyol selalu disebut “murus”, sedemikian rupa hingga “dengan bangga” mereka memakai nama itu. Sekarang kita mengenal mereka sebagai Bangsa Moro. Pemerintah Filiphina sampai hari ini pun, meskipun masih cukup moderat, tetap secara politis menganggap mereka “murus”. Sementara Bangsa Moro sendiri hanya memakai logika sederhana: “Kami tidakpaham kenapa kami dianggap sebagai pemberontak terhadap Manila, dianggap sebagai separatis yang ingin menyempal,
padahal dalam sejarah tak pernah kami menjadi bagian dari negara yang bernama Filiphina. Filiphina itu lahir sebagai modus negara sesudah berlangsung penjajahan Spanyol dan Amerika Serikat. Kami tidak tahu menahu itu….” Bangsa Moro memakai konotasi positif dari sawang sinawang, sementara mereka harus menghadapi klaim establisment modern yang memakai sawang sinawang dalam konotasi negatif. Sejarah kita sendiri menyodorkan PR yang barangkali harus kita lacak di antara dua kutup konotasi itu, baik yang terjadi di zaman Majapahit maupun yang sedang berlangsung hari-hari ini. Kita bebas menentukan sikap, namun objektivitas dan keadilan sejarah juga merdeka untuk melihat siapa yang adil dan objektif dan siapa yang tidak adil dan subjektif dalarn bersawang sinawang.

Benarkah Nabi Idris, Nabi Ilyas, Nabi Khidir dan Nabi Isa Masih Hidup?

kaca mataFenomena ini termasuk tema debat yang kerap
diperbincangkan masyarakat akar rumput (awam).
Maklum saja, karena masyarakat kita umumnya baru
mentas dari budaya animisme, sehingga masih
sangat gandrung dengan hal berbau klenik.
Kendatipun hegemoni teknologi sudah merebak luas, namun semangat mengupas kejadian ‘mistis’
tidak bisa ditinggalkan. Keadaan akan menjadi ringan, ketika masyarakat
bersedia untuk mengembalikan masalah aqidah ini
kepada ulama dan merujuk kepada sumber berita
yang mutlak benarnya, Alquran dan hadis. Akan
tetapi sangat disayangkan, banyak masyarakat kita
yang justru mencari jawaban hal yang berbau mistis dan misterius ini ke primbon atau kyai yang masih
demen dengan klenik. Apakah Nabi Khidir masih hidup? Berikut kutipan keterangan Dr. Umar Sulaiman Al-
Asyqar dalam buku beliau Ar-Rusulu war Risalat; Sekelompok ulama berpendapat bahwa Khidir masih
hidup dan belum mati. Dan terdapat beberapa riwayat
yang menjelaskan hal ini. Keberadaan pendapat
belum matinya Nabi Khidir, telah membuka pintu
munculnya berbagai khurafat dan kedustaan. Banyak
orang yang menyalahgunakan pendapat ini dan mengaku pernah bertemu Nabi Khidir, dan beliau
memberikan beberapa nasihat serta menyampaikan
berbagai perintah. Kemudian mereka meriwayatkan
berbagai cerita aneh tentang Nabi Khidir, dan
berbagai berita yang diingkari secara logika yang
sehat. Kemudian, banyak ulama besar muhadditsin (ahli
hadis) yang berpendapat lemahnya riwayat yang
menyatakan bahwa Nabi Khidir masih hidup. Di antara
ulama hadis yang melemahkan riwayat ini adalah
Imam Bukhari, Ibnu Dihyah, Al-Hafidz Ibnu Katsir, dan
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani. Alasan terkuat yang mereka sampaikan untuk membantah pendapat
masih hidupnya Nabi Khidir: Pertama, Tidak ada satu pun hadis yang shahih yang menyatakan Nabi Khidir masih hidup. Kedua, Andaikan beliau masih hidup, tentu diwajibkan bagi beliau untuk mendatangi Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti
dakwah beliau, dan membantu dakwah beliau.
Karena Allah telah mengambil janji dari para nabi
sebelumnya, untuk beriman kepada Muhammad,
membantu beliau, jika mereka berjumpa dengan zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah
berfirman, ﻪﻠﻟﺍ ﺬﺧﺃ ﺫﺇﻭ ﻦﻴﻴﺒَّﻨﻟﺍ ﻕﺎﺜﻴﻣ ﻦﻣ ﻢﻜﺘﻴﺗﺁ ﺎﻤﻟ َّﻢُﺛ ٍﺔﻤﻜﺣﻭ ٍﺏﺎﺘﻛ ٌﻕﺪﺼﻣ ٌﻝﻮﺳﺭ ﻢﻛﺀﺎﺟ َّﻦﻨﻣﺆﺘﻟ ﻢﻜﻌﻣ ﺎﻤﻟ ﻝﺎﻗ ﻪَّﻧﺮﺼﻨﺘﻟﻭ ﻪﺑ ﻢﺗﺬﺧﺃﻭ ﻢﺗﺭﺮﻗﺃﺃ ﻱﺮﺻﺇ ﻢﻜﻟﺫ ﻰﻠﻋ ﺎﻧﺭﺮﻗﺃ ﺍﻮﻟﺎﻗ ﺍﻭﺪﻬﺷﺎﻓ ﻝﺎﻗ ﻦﻣ ﻢﻜﻌﻣ ﺎﻧﺃﻭ ﻦﻳﺪﻫﺎَّﺸﻟﺍ (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari
para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan
kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang
kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa
yang ada padamu, akankah kamu akan sungguh-
sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan
menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian
itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah
berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi)
dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu“. (QS.
Ali Imran: 81) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga
mengabarkan, bahwa andaikan Musa masih hidup,
tentu beliau akan mengikuti Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda: ﻰَﺳﻮُﻣ َﻥﺎَﻛ ْﻮَﻟ ُﻪَّﻧِﺈَﻓ ،ْﻢُﻛِﺮُﻬْﻇَﺃ َﻦْﻴَﺑ ﺎًّﻴَﺣ ْﻥَﺃ ﺎَّﻟِﺇ ُﻪَﻟ َّﻞَﺣ ﺎَﻣ ﻲِﻨَﻌِﺒَّﺘَﻳ “Sesungguhnya, andaikan Musa masih hidup di
tengah-tengah kalian, tidak halal bagi beliau selain
harus mengikutiku.” (HR. Ahmad, 14631) Ibrahim Al-Harbi pernah bertanya kepada Imam
Ahmad, apakah Nabi Khidir dan Nabi Ilyas masih
hidup, keduanya masih ada dan melihat kita serta kita
bisa mendapatkan riwayat dari mereka berdua.
Kemudian Imam Ahmad menjawab: ﺐﺋﺎﻏ ﻰﻠﻋ ﻝﺎﺣﺃ ﻦﻣ ﺎﻣﻭ ،ﻪﻨﻣ ﻒﺼﻨﻳ ﻢﻟ ﻻﺇ ﺍﺬﻫ ﻰﻘﻟﺃ ﻥﺎﻄﻴﺸﻟﺍ “Siapa yang menekuni masalah ghaib (klenik), dia
tidak akan bisa bersikap proporsional dalam masalah
ini. Tidak ada yang membisikkan berita ini kecuali
setan.” Imam Bukhari juga pernah ditanya, apakah Nabi
Khidir dan Ilyas masih hidup? Beliau menjawab: Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, padahal Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ﺱﺃﺭ ﻰﻠﻋ ﻰﻘﺒﻳ ﻻ ﻮﻫ ﻦﻤﻣ ﺔﻨﺳ ﺔﺋﺎﻣ ﺪﺣﺃ ﺽﺭﻷﺍ ﻪﺟﻭ ﻰﻠﻋ “Tidak akan tersisa seorang-pun di muka bumi ini
pada seratus tahun yang akan datang.” (Majmu’
Fatawa Syaikhul Islam, 4:337) Sebagian ulama ahli tahqiq memberikan keterangan
yang agak panjang lebar untuk membantah alasan
pendukung khurafat terkait Nabi Khidir. Di antaranya
adalah Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan
Nihayah (1:326), Muhammad Amin As-Syinqithi, dalam
tafsir beliau Adwaul Bayan (4:184). Bahkan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani membuat satu risalah khusus
yang berjudul: Az-Zahr An-Nadhr fi Naba-i Al-Khidr,
yang dicetak dalam kumpulan risalah mimbariyah
(2:195). Allahu a’lam Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan
Pembina Konsultasi Syariah)